Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Di Balik Peringkat Global, Jakarta Masih Hadapi Defisit Tata Kelola

📅 Kamis, 09 Jul 2026, 00:00 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Di Balik Peringkat Global, Jakarta Masih Hadapi Defisit Tata Kelola Doc: istimewa
Ket. Krisis Perkotaan - Gap antara Pertumbuhan Ekonomi dan Layanan Publik Akar Masalah Jakarta

Transformasi Jakarta menjadi kota yang adil dan berkelanjutan mensyaratkan pergeseran paradigma pembangunan, dari orientasi proyek menuju tata kelola berbasis sistem.

JAKARTA – Capaian Jakarta dalam berbagai indeks kota global belum tentu mencerminkan kualitas layanan publik yang dirasakan masyarakat sehari-hari. Persoalan transportasi publik, banjir yang berulang, serta terbatasnya akses air bersih masih menjadi tantangan mendasar yang memengaruhi produktivitas, kualitas hidup, dan daya saing kota.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UPN Veteran Jakarta, Freesca Syafitri menilai Jakarta masih mengalami defisit tata kelola perkotaan yang tercermin dari buruknya transportasi publik, belum tuntasnya penanganan banjir, dan minimnya akses air bersih. Hal itu untuk merespons pernyataan Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung beberapa hari lalu yang mengatakan Jakarta menempati ranking 53 kota terbaik di dunia melampaui Washington DC di Amerika Serikat (AS) dan Abu Dhabi di Uni Emirat Arab.

Freesca sekaligus pengamat kebijakan publik itu nenilai klaim tersebut sangat kontras dengan kenyataan yang dirasakan warga dan masyarakat setiap hari. “Jakarta bukan kekurangan proyek infrastruktur, tetapi mengalami defisit tata kelola. Macet, minimnya akses air bersih perpipaan, dan banjir berulang bukan sekadar masalah teknis yang bisa selesai hanya dengan menambah jalan, membangun saluran, atau memperluas jaringan pipa secara parsial,” jelasnya di Jakarta, Rabu (8/7).

Dominasi kendaraan pribadi memperburuk polusi, menghabiskan ruang jalan, dan menekan produktivitas. Terbatasnya akses air perpipaan mendorong penggunaan air tanah, yang dapat memperparah penurunan muka tanah. Sementara itu, betonisasi kota mengurangi daya serap air dan meningkatkan risiko banjir.

Menurutnya, persoalan transportasi publik yang belum optimal, akses air bersih yang belum merata, serta banjir yang terus berulang menunjukkan pembangunan masih berorientasi pada proyek fisik, bukan pada penguatan layanan dasar dan tata kelola yang terintegrasi. Dia menekankan perlunya kebijakan yang berpusat pada manusia melalui penguatan transportasi publik, perluasan jaringan air bersih, perlindungan fungsi ekologis kota, dan perencanaan tata ruang yang berkelanjutan agar Jakarta menjadi kota yang lebih layak huni, produktif, dan berkeadilan.

“Jika Jakarta ingin menjadi kota yang layak, adil, produktif, dan berkelanjutan, maka kebijakan publiknya harus bergerak dari pendekatan proyek menuju pendekatan sistem,” tegasnya.

Sebelumnya, Pramono Anung mengungkapkan posisi Jakarta dalam daftar kota terbaik dunia terus menunjukkan peningkatan. Dia menegaskan Jakarta memiliki peran strategis sebagai wajah Indonesia di mata dunia.

"Jakarta tentunya harus mempunyai terobosan-terobosan, langkah-langkah yang berbeda dengan kota-kota di Indonesia lainnya karena hanya Jakarta, sesuai dengan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2024, menyandang sebagai kota global, pusat perekonomian, dan sekaligus masih menjadi ibu kota negara," kata Pramono akhir pekan lalu.

Permasalahan Dasar

Sementara itu, Direktur Eksekutif Yayasan Kesejahteraan Berkelanjutan Indonesia (Sustain), Tata Mustasya menilai ketimpangan antara pertumbuhan ekonomi Jakarta dengan pelayanan publik menjadi akar dari berbagai masalah kota. Menurutnya, sektor transportasi publik, air bersih, dan pencegahan banjir tertinggal jauh dari ekspansi ekonomi sektor swasta.

“Hal tersebut terjadi karena pengelolaan lingkungan yang tertinggal atau tidak bisa mengejar kecepatan pembangunan ekonomi. Jadi ekonomi kota tumbuh tapi transportasi publik, kebutuhan air bersih, pencegahan banjir belum memadai. Ini juga akibat sektor/pelayanan publik tertinggal dari ekspansi ekonomi sektor swasta,” jelasnya.

Tata menyebut dampak dari ketimpangan ini paling besar dirasakan oleh kelas menengah dan kelompok ekonomi bawah. “Dampaknya besar, dan yang paling terdampak adalah kelas menengah yang sejauh ini makin tertekan dan kelompok ekonomi bawah,” terang Tata.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta

Pemulihan sawah pascabencana di Aceh

45 menit yang lalu | Wahyu AP

Daerah
Pemulihan sawah pascabencan...
Nasional
Unjuk rasa mahasiswa dan ma...
Daerah
Peluncuran bus listrik proy...

Pembukaan Festival Budaya Kerinci 2026

55 menit yang lalu | Wahyu AP

Daerah
Pembukaan Festival Budaya K...
Megapolitan
Aksi desak evaluasi perdaga...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

22 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.