Investor Menunggu Kepastian, Ekonom Desak Percepatan Perbaikan Iklim Usaha
📅 Jumat, 12 Jun 2026, 21:30 WIB | Oleh: Tim PenulisJAKARTA – Penguatan iklim usaha menjadi faktor penting dalam mendorong investasi, ekspansi bisnis, dan penciptaan lapangan kerja.
Upaya ini tidak hanya berkaitan dengan penyederhanaan regulasi dan perizinan, tetapi juga kepastian hukum, stabilitas kebijakan, serta ketersediaan infrastruktur yang mendukung aktivitas ekonomi.
Iklim usaha yang kondusif dapat meningkatkan kepercayaan pelaku usaha untuk menanamkan modal dan memperluas kegiatan produksi.
Dalam jangka panjang, perbaikan iklim usaha berperan strategis dalam meningkatkan daya saing ekonomi nasional serta memperkuat ketahanan pertumbuhan di tengah dinamika ekonomi global.
Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Esther Sri Astuti mendorong penguatan iklim usaha untuk memperkuat arus investasi asing masuk ke Indonesia.
Sebaiknya Anda baca juga:
Saat dihubungi di Jakarta, Jumat (12/6), ia menyampaikan untuk menarik investasi asing secara berkelanjutan, diperlukan sejumlah pembenahan yang mampu meningkatkan daya tarik Indonesia sebagai tujuan investasi.
Menurut dia, faktor pertama yang harus dipastikan adalah kepastian hukum bagi pelaku usaha. Selain itu, investor juga akan mempertimbangkan prospek pasar dan pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan sebelum menanamkan modal.
Esther menambahkan ketersediaan bahan baku yang memadai, ekosistem usaha yang mendukung, serta integrasi dengan rantai pasok global menjadi faktor penting lainnya dalam menarik investor asing.
Sebaiknya Anda baca juga:
Di sisi lain, dukungan infrastruktur dasar seperti energi, listrik, dan air yang andal juga menjadi syarat utama untuk meningkatkan daya saing Indonesia dibandingkan negara tujuan investasi lainnya.
Lebih lanjut, harmonisasi peraturan antar instansi baik pusat maupun daerah juga diperlukan agar investor memperoleh kepastian dalam menjalankan usahanya.
Indef menilai penguatan iklim investasi menjadi semakin penting mengingat sejumlah indikator fundamental ekonomi masih menghadapi tekanan meski pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat cukup tinggi.
Dalam kajian yang dilakukan pihaknya, Indef mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 5,61 persen masih ditopang konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah, sementara investasi, manufaktur, dan perdagangan luar negeri belum cukup kuat menopang pertumbuhan jangka panjang.
Kajian tersebut juga menunjukkan tekanan terhadap rupiah, cadangan devisa, serta meningkatnya risiko fiskal menjadi sinyal bahwa perekonomian nasional masih menghadapi tantangan yang perlu diantisipasi.
Oleh karena itu, Indef merekomendasikan agar pemerintah tidak hanya berfokus mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memperkuat kualitas pertumbuhan, produktivitas, dan daya tahan ekonomi nasional.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!