Inovasi Hidrasi dan Daur Ulang Antar Dua Sekolah Indonesia ke Ajang Regional Asia Pasifik Ajang AIA Healthiest Schools
📅 Selasa, 02 Jun 2026, 18:23 WIB | Oleh: Haryo BronoJAKARTA – Dua sekolah dari wilayah yang berbeda di Indonesia berhasil meraih penghargaan nasional dalam ajang AIA Healthiest Schools 2026. SDN Cipedak 01 Jakarta dan SMP IL Kapten Fatubaa dari Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT), dinobatkan sebagai pemenang kompetisi proyek sekolah sehat yang diselenggarakan oleh AIA Financial.
Penghargaan tersebut diberikan sebagai bentuk apresiasi atas inovasi dan komitmen kedua sekolah dalam menciptakan lingkungan belajar yang lebih sehat, berkelanjutan, dan berdampak bagi komunitas sekitar. Keduanya akan mewakili Indonesia pada kompetisi regional AIA Healthiest Schools yang akan berlangsung di Bangkok, Thailand, pada Juli 2026 bersama perwakilan sekolah dari berbagai negara di kawasan Asia Pasifik.
Presiden Direktur AIA, Harsya Prasetyo, mengatakan bahwa program AIA Healthiest Schools merupakan bagian dari upaya perusahaan dalam mendukung kualitas generasi muda melalui penerapan gaya hidup sehat sejak dini.
“AIA ingin berkontribusi terhadap kualitas generasi bangsa dan menjadikan gaya hidup sehat sebagai bagian dari perjalanan belajar setiap anak. Melalui AIA Healthiest Schools, kami menghadirkan modul pembelajaran yang dapat diakses secara gratis, fleksibel, dan menyenangkan, serta kompetisi proyek sekolah sehat yang mendorong lahirnya berbagai inovasi di lingkungan sekolah,” ujarnya melalui siaran pers pada hari Selasa (2/6).
Sementara itu, Chief Marketing Officer AIA, Kathryn Parapak, menilai perubahan positif di lingkungan sekolah dapat dimulai dari langkah-langkah sederhana yang berangkat dari permasalahan nyata.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Yang terpenting adalah memahami tantangan yang dihadapi sekolah masing-masing, menghadirkan solusi yang relevan, serta memastikan dampaknya dapat dirasakan dan diukur secara berkelanjutan. Ketika guru, siswa, orang tua, dan komunitas bergerak bersama, perubahan akan menjadi lebih kuat dan bertahan lebih lama,” katanya.
Program AIA Healthiest Schools sendiri bertujuan mendorong terciptanya lingkungan sekolah yang lebih sehat melalui dua inisiatif utama, yakni penyediaan modul pembelajaran daring gratis bagi para guru serta kompetisi proyek sekolah sehat. Program ini mengangkat empat pilar utama, yaitu makan sehat, gaya hidup aktif, kesehatan mental, serta sehat dan lestari.
Tahun ini, Indonesia mencatat partisipasi tertinggi dibandingkan negara peserta lainnya. Sebanyak 2.896 peserta mendaftar dan menghasilkan 359 proyek sekolah sehat yang dikirimkan untuk dinilai. Tingginya angka partisipasi tersebut menunjukkan semakin besarnya kesadaran sekolah-sekolah di Indonesia terhadap pentingnya membangun budaya hidup sehat melalui program yang berkelanjutan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pada kategori Sekolah Dasar, SDN Cipedak 01 Jakarta berhasil meraih predikat terbaik melalui proyek GEMARIPAH SEGAR (Gerakan Minum Air Putih Aah Segar). Program ini lahir dari temuan tingginya risiko dehidrasi di kalangan siswa akibat rendahnya kebiasaan mengonsumsi air putih secara rutin.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, sekolah menerapkan berbagai langkah, mulai dari jadwal minum air serentak, kartu pemantauan hidrasi, lomba poster edukasi, hingga pembentukan Duta Hidrasi Cilik. Program ini melibatkan seluruh warga sekolah dan berhasil menciptakan budaya konsumsi air putih setiap hari.
Hasilnya cukup signifikan. Dalam tujuh hari sejak program dijalankan, persentase siswa yang memenuhi anjuran konsumsi dua liter air per hari meningkat dari 12 persen menjadi 98 persen. Sementara itu, risiko dehidrasi yang sebelumnya mencapai 60 persen berhasil ditekan hingga nol persen. Keunggulan program ini terletak pada pendekatannya yang sederhana, mudah diterapkan, dan tidak memerlukan biaya tambahan sehingga berpotensi direplikasi oleh sekolah lain.
Sementara itu, penghargaan untuk kategori Sekolah Menengah Pertama diraih oleh SMP IL Kapten Fatubaa yang berada di Kabupaten Belu, NTT, wilayah perbatasan Indonesia dan Timor-Leste. Sekolah tersebut memenangkan kompetisi melalui proyek Huka Upcycling Project (HUP).
Berangkat dari persoalan limbah kulit pisang yang banyak ditemukan di lingkungan sekitar, para siswa dan guru mengembangkan inovasi pengolahan limbah menjadi produk bernilai tambah, seperti es krim berbahan kulit pisang, pupuk kompos, serta pupuk cair organik.
Tidak hanya berfokus pada isu lingkungan, proyek ini juga mengintegrasikan aspek kewirausahaan dan kolaborasi lintas negara. SMP IL Kapten Fatubaa melibatkan siswa dari Timor-Leste dalam seminar bersama dan kegiatan uji coba produk. Dampak program tersebut dirasakan tidak hanya oleh lingkungan sekolah, tetapi juga oleh petani lokal, masyarakat sekitar, serta lebih dari 150 siswa dari Timor-Leste yang terlibat dalam kemitraan pembelajaran.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!