Keuntungan dari Lemahnya Rupiah, Jangan-Jangan Ini Memang Strategi Ekonomi RI
📅 Rabu, 20 Mei 2026, 03:30 WIB | Oleh: Winoto Wahyu
Doc: WW - Koran Jakarta
Jakarta - Akhir-akhir ini mata uang RI yaitu rupiah terus mengalami pelemahan [Baca : Rupiah Anjlok ke Rp17.606 per Dolar AS]. Hal itu tentu saja membuat banyak pihak khawatir, namun benarkah efek pelemahan rupiah akan selalu negatif? Berikut tim ekonomi Koran Jakarta berikan analisa yang mungkin sedikit berbeda dari pemahaman anda.
Pembiaran Pelemahan Rupiah: Sebuah Strategi Ekonomi
Nilai tukar rupiah yang melemah terhadap USD sering dianggap sebagai tanda buruk bagi ekonomi. Namun, dari sudut pandang strategi perdagangan internasional, pelemahan rupiah juga dapat memberi keuntungan tertentu bagi Indonesia, terutama untuk menekan impor dan memperkuat daya saing produk lokal.
Strategi seperti ini sebenarnya bukan hal baru dalam ekonomi global. China selama bertahun-tahun dikenal menjaga mata uang yuan tetap relatif lemah untuk mempertahankan daya saing ekspor. Saat menghadapi perang dagang dengan Amerika Serikat, China melakukan serangan balik melalui kombinasi tarif dan kebijakan nilai tukar.
Indonesia memang belum sekuat China dalam sektor industri dan teknologi, sehingga ruang geraknya berbeda. Karena itu, membiarkan rupiah melemah dalam batas tertentu bisa menjadi salah satu “senjata ekonomi” untuk menekan dominasi barang impor tanpa harus menaikkan tarif secara agresif. Ketika rupiah melemah, barang impor dari Amerika Serikat otomatis menjadi lebih mahal di pasar Indonesia. Produk elektronik, mesin, hingga barang konsumsi asal AS akan mengalami kenaikan harga karena importir membutuhkan lebih banyak rupiah untuk membeli dolar.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dalam teori ekonomi perdagangan, kondisi ini mirip dengan efek tarif impor: barang luar negeri menjadi mahal sehingga masyarakat dan industri terdorong menggunakan produk dalam negeri. Penelitian dalam jurnal “Dampak Depresiasi Rupiah terhadap Perkembangan Impor Indonesia” [lihat di akhir tulisan] menunjukkan bahwa depresiasi rupiah berpengaruh negatif signifikan terhadap impor barang konsumsi, bahan baku, dan barang modal.
Selain menekan impor, rupiah lemah juga membuat produk ekspor Indonesia lebih murah bagi pembeli luar negeri. Komoditas seperti CPO, batu bara, tekstil, dan produk pertanian menjadi lebih kompetitif di pasar global.
Sejumlah penelitian menunjukkan depresiasi nilai tukar dapat meningkatkan daya saing ekspor, terutama pada sektor berbasis sumber daya alam dan industri padat karya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Meski demikian, strategi ini tidak sepenuhnya tanpa risiko. Indonesia masih bergantung pada impor bahan baku, energi, dan teknologi. Jika rupiah terlalu lemah, biaya produksi domestik juga ikut naik dan dapat memicu inflasi. Karena itu, pelemahan rupiah hanya efektif jika dibarengi penguatan industri nasional, hilirisasi, dan peningkatan produksi dalam negeri.
Dengan kata lain, rupiah lemah bisa dipandang bukan sekadar kelemahan ekonomi, tetapi juga alat strategi perdagangan. Selama dikendalikan secara hati-hati, kondisi ini dapat membantu Indonesia mengurangi ketergantungan impor, melindungi industri lokal, dan meningkatkan daya saing ekspor nasional.
Bahan bacaan:
a. https://jurnal.unimed.ac.id/2012/index.php/qe/article/view/17480
b. https://vs-jurnal.dpr.go.id/index.php/ekp/article/view/4530
c. https://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/167084
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!