Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

RI Punya Harta Karun Energi, Tapi Jalan di Tempat

📅 Kamis, 07 Mei 2026, 08:55 WIB | Oleh: Tim Redaksi
RI Punya Harta Karun Energi, Tapi Jalan di Tempat Doc: istimewa
Ket. Pengamat ekonomi Salamudin Daeng menilai Indonesia termasuk negara rentan terhadap krisis energi global, namun sekaligus punya modal besar untuk beralih ke energi non-fosil. Sayangnya, implementasi transisi energi masih banyak hambatan

JAKARTA – Pengamat ekonomi Salamudin Daeng menilai Indonesia termasuk negara rentan terhadap krisis energi global, namun sekaligus punya modal besar untuk beralih ke energi non-fosil. Sayangnya, implementasi transisi energi masih banyak hambatan.

“Dunia tengah dipaksa untuk transisi dari minyak ke non minyak. Bagaimanapun caranya, semua negara harus meningkatkan spending mereka untuk transisi energi,” ujar Salamudin, Rabu (6/5).

Menurutnya, berbagai konflik geopolitik seperti ketegangan di Selat Hormuz dan gangguan pasokan minyak dunia tak lepas dari upaya mengatur ulang peta energi global. “Konflik Selat Hormuz dan gangguan ke minyak hanyalah usaha memperpanjang konflik untuk mengatur minyak dalam kepentingan transisi energi,” tegasnya.

Punya Peta Jalan, Tapi Tersendat  

Salamudin menyebut Indonesia sebenarnya sudah memiliki peta jalan transisi energi yang cukup bagus. Namun pelaksanaannya masih tersendat karena banyak hambatan, baik dari dalam maupun luar pemerintahan.

“RI punya peta jalan yang cukup bagus menuju transisi energi namun masih banyak yang menghalangi. Di dalam pemerintahan banyak membuat rencana tidak proper dan di luar menghambat dengan tindakan dan opini,” ungkapnya.

Kaya Energi Transisi, Kalah Saing dengan Batubara

Dari sisi hulu, Indonesia kaya sumber energi transisi. Cadangan gas alam melimpah, potensi panas bumi besar, hingga biomassa yang paling banyak di dunia. “Indonesia di hulu banyak gas, tapi dihambat oleh batubara. Panas bumi banyak, termasuk biomassa yang paling banyak,” kata Salamudin.

Sayangnya, dominasi batubara dalam bauran energi nasional masih kuat. Hal ini membuat pengembangan energi baru terbarukan berjalan lambat. Padahal, krisis energi global seharusnya jadi momentum untuk beralih.

Di sisi hilir, Salamudin menyoroti belum seriusnya upaya konversi energi. Padahal, Indonesia bisa mendorong penggunaan gas alam, gas pipa, dan CNG untuk transportasi maupun industri. “Di hilir bisa konversi ke gas alam, gas pipa dan CNG. Namun belum kelihatan serius,” ujarnya.

Ia menambahkan, tanpa keseriusan pemerintah dan dukungan semua pihak, Indonesia akan tetap rentan terhadap gejolak harga minyak dunia. “Krisis energi global yang dipicu konflik geopolitik akan terus menggerus devisa untuk impor BBM,” katanya.

Dunia Hadapi Krisis Terparah

Kekhawatiran serupa disuarakan Uni Eropa. Dunia menghadapi krisis energi paling serius dalam sejarah global akibat konflik di Timur Tengah, kata Komisaris Eropa untuk Energi dan Perumahan Dan Jorgensen, Selasa (5/5).

"Dunia menghadapi apa yang bisa disebut sebagai krisis energi terparah yang pernah ada — salah satu yang menguji ketahanan ekonomi, masyarakat, dan kemitraan kita," kata Jorgensen dalam konferensi pers di Brussels, Belgia.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Saham SpaceX Meroket, Elon Musk Jadi Triliuner Pertama di Dunia

Saham SpaceX Meroket, Elon Musk Jadi Triliuner Pertama di Dunia

13 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.