Mahantam: Tradisi yang Tetap Dijaga di Tengah Pemulihan Bencana
📅 Kamis, 19 Mar 2026, 02:14 WIB | Oleh: OpikJoni Masryal, ketua kelompok mahantam setempat, mengungkapkan bahwa jumlah peserta pada tahun kedelapan pelaksanaan mengalami penurunan. Jika pada tahun-tahun sebelumnya jumlah peserta rata-rata mencapai 75 orang, tahun ini hanya tercatat sebanyak 66 orang.
Penurunan tersebut, kata dia, tidak terlepas dari dampak bencana yang memengaruhi kondisi ekonomi dan kesiapan warga untuk berpartisipasi.
“Tahun ini mundur 10 orang, memang bencana ini korban terdampak. Gara-gara bencana itu, orang-orang itu yang banyak mengambil nomor. Jadi tidak sempat, berkurang nomor karena bencana itu. Memang efeknya ada,” katanya.
Joni menjelaskan, peserta tradisi mahantam ini tidak hanya berasal dari masyarakat di kampung setempat, tetapi juga terbuka bagi masyarakat luar yang ingin bergabung, dengan syarat mengikuti ketentuan yang telah disepakati bersama.
Sebaiknya Anda baca juga:
Mekanisme yang dimaksud adalah peserta harus membayar biaya awal Rp300 ribu, kemudian melanjutkan dengan iuran bulanan sebesar Rp20 ribu per bulan. Sehingga total biaya yang dibayarkan adalah Rp540 ribu.
Peserta pun merasa terbantu akan kehadiran tradisi mahantam, mengamankan stok daging yang akan diolah menjadi rendang, sajian wajib di hari pertama Lebaran bagi masyarakat Palembayan.
“Anak delapan, cucu 13, tapi daging untuk saya. Anak cucu sendiri-sendiri membuat rendang, tapi kalau tiba anak cucu yang jauh, daging bisa dimakan bersama-sama,” ucap Nursana, warga Padang Sibabaju yang telah mengikuti tradisi mahantam selama tiga tahun terakhir, setelah sebelumnya berhenti.
Sebaiknya Anda baca juga:
Mahantam di huntara
Berbeda dengan kondisi di Padang Sibabaju, situasi di Hunian Sementara (Huntara) Kayu Pasak justru menghadirkan dinamika tersendiri. Di lokasi yang berjarak sekitar dua kilometer dari Padang Sibabaju ini, kelangsungan tradisi mahantam sempat terancam gagal dilaksanakan.
Keterbatasan ekonomi para penghuni huntara membuat skema patungan seperti biasanya menjadi sulit diwujudkan. Sebagian besar warga masih berjuang memenuhi kebutuhan dasar pascabencana, sehingga kontribusi finansial untuk tradisi menjadi beban tambahan.
Namun, di tengah kekhawatiran tersebut, muncul inisiatif yang patut diapresiasi. Wali Jorong Kayu Pasak, Nofril Harman, mengambil langkah strategis dengan mengalihkan bantuan dana yang tersedia untuk membeli sapi.
Keputusan ini tidak hanya menyelamatkan tradisi mahantam dari ancaman vakum, tetapi juga memberikan manfaat langsung bagi warga huntara.
Daging sapi yang diperoleh kemudian dibagikan kepada seluruh penghuni, memastikan bahwa mereka tetap dapat merasakan kebahagiaan Lebaran meskipun dalam keterbatasan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!