Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Tak Lagi Jual Bahan Mentah, NTT Genjot Klaster Rumput Laut Bernilai Tambah

📅 Rabu, 29 Jul 2026, 22:00 WIB | Oleh: Tim Penulis
Tak Lagi Jual Bahan Mentah, NTT Genjot Klaster Rumput Laut Bernilai Tambah Doc: ANTARA FOTO/Kornelis Kaha
Ket. Petani rumput laut membawa sejumah karung barisi hasil panen rumput laut di pesisir pantai desa persiapan Tungga Oli, Kecamatan Pante Baru Kabupaten Rote Ndao, NTT.

KUPANG – Hilirisasi rumput laut menjadi strategi penting untuk meningkatkan nilai tambah komoditas kelautan sekaligus mengurangi ketergantungan pada ekspor bahan baku.

Melalui pengembangan industri pengolahan, rumput laut dapat diolah menjadi berbagai produk bernilai tinggi, seperti pangan, farmasi, kosmetik, hingga bahan baku industri.

Selain meningkatkan pendapatan petani dan devisa, hilirisasi juga mendorong terciptanya lapangan kerja, memperkuat rantai pasok domestik, serta meningkatkan daya saing Indonesia di pasar global.

Agar optimal, pengembangan hilirisasi perlu didukung oleh investasi, inovasi teknologi, kepastian pasokan bahan baku, dan perluasan akses pasar.

Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mempercepat pengembangan industri rumput laut melalui pembentukan lima klaster budi daya sebagai strategi membangun ekosistem usaha yang terintegrasi dari sektor hulu hingga hilir.

"Pemerintah Provinsi NTT terus membangun ekosistem industri rumput laut yang terintegrasi melalui pengembangan lima klaster budidaya, penyediaan bibit unggul, pembangunan kebun bibit, penguatan kapasitas pembudidaya, hingga pengembangan industri pengolahan," kata Pelaksana Tugas Kadis Kelautan dan Perikanan NTT Stefania Tunga Boro di Kupang, Rabu (29/7).

Pemprov NTT menilai rumput laut merupakan salah satu komoditas unggulan daerah yang memiliki potensi besar untuk mendukung pertumbuhan ekonomi masyarakat pesisir. Namun, pengembangannya masih menghadapi berbagai tantangan, baik di sektor hulu maupun hilir.

Di sektor hulu, tantangan tersebut meliputi ketersediaan bibit unggul yang berkelanjutan, serangan penyakit seperti ice-ice serta dampak perubahan iklim terhadap kualitas perairan.

Selain itu juga, belum meratanya penerapan teknologi budidaya modern dan Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB), serta pemanfaatan lahan budidaya yang masih belum optimal.

Sementara di sektor hilir, sebagian besar hasil panen rumput laut masih dipasarkan dalam bentuk rumput laut kering sebagai bahan baku sehingga nilai tambah lebih banyak dinikmati daerah yang memiliki industri pengolahan.

Selain itu, keterbatasan infrastruktur logistik, akses pembiayaan, standardisasi mutu, sertifikasi produk, dan akses pasar ekspor juga masih menjadi pekerjaan rumah.

“Melalui pengembangan lima klaster budidaya, pemerintah daerah berharap rantai pasok rumput laut dapat diperkuat sekaligus mendorong tumbuhnya industri pengolahan di NTT agar nilai tambah komoditas tersebut dapat dinikmati masyarakat setempat,” ujar dia.

Pengembangan rumput laut juga diarahkan sejalan dengan prinsip ekonomi biru (blue economy), sehingga peningkatan produksi tetap memperhatikan kelestarian ekosistem pesisir dan laut.

Untuk mendukung upaya tersebut, Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi NTT bersama Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan serta berbagai mitra pembangunan terus melakukan pendampingan kepada pembudidaya melalui penyuluh perikanan.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Industri Pangan Tak Boleh Jalan di Tempat, Riset IPB Buka Peluang Besar
    Pertumbuhan industri mamin 6,51% ini merupakan sinyal positif ...
  • BeFa Bangun Kawasan Industri AI-Ready Pertama di Indonesa
    Artikel ini memberikan wawasan edukatif yang sangat mencerahkan ...
  • Menperin: Industri Hijau Bukan Beban, Tapi Investasi Jangka Panjang untuk Tembus Pasar Global
    Artikel dari Koran Jakarta ini sangat informatif dan ...
  • Tak Lagi Jadi Penonton, IKM Komponen Dibawa Masuk Rantai Industri Besar
    Langkah Kemenperin mengintegrasikan IKM logam ke dalam rantai ...
  • Setop Impor Agar Petani Tebu Termotivasi Meningkatkan Produktivitas
    Sebagai praktisi di industri pengolahan pangan, saya sangat ...
Olahraga
Pergelangan Kaki Bermasalah...
Advertisement
jjroyal-luwak
Advertisement
Wisata Pantai di Gunung Kidul Makin Gampang, Kelok 23 Jadi Senjata Baru Lawan Kemacetan

Wisata Pantai di Gunung Kidul Makin Gampang, Kelok 23 Jadi Senjata Baru Lawan Kemacetan

28 Aug 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.