Wabah Kolera Kini Menghantui Pengungsi di Sudan Selatan
📅 Kamis, 12 Feb 2026, 16:07 WIB | Oleh: Deri Henriawan
Doc: AFP
JENEWA - Konflik antarkomunitas di Negara Bagian Jonglei, Sudan Selatan, terus meningkat hingga menyebabkan warga sipil yang mengungsi sangat membutuhkan makanan, air, tempat tinggal, dan perawatan kesehatan.
Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) pada Selasa mengatakan bahwa pertempuran semakin intensif di wilayah utara dan tengah Negara Bagian Jonglei, mengakibatkan pengungsian skala besar, menghambat distribusi bantuan, serta memicu terhentinya layanan-layanan esensial.
Lalu lintas jalur darat dan sungai ditutup, sementara penerbangan misi kemanusiaan juga dilarang.
"Gelombang pengungsian ini meningkatkan risiko penyebaran kolera, dengan 55 kasus dan tujuh kematian dilaporkan dalam sepekan di wilayah Ayod dan Duk," ungkap OCHA.
"Sejak 28 September 2024, Sudan Selatan telah melaporkan lebih dari 98.000 kasus kolera dan 1.600 lebih kematian di sembilan negara bagian. Penularan kolera kemungkinan akan meningkat menjelang musim hujan jika tim dan pasokan bantuan kemanusiaan terus dibatasi."
Sebaiknya Anda baca juga:
Selama akhir pekan, Koordinator Bantuan Kemanusiaan PBB Anita Gbeho menyerukan kepada semua pihak untuk "menghentikan pertempuran, melindungi warga sipil dan para pekerja kemanusiaan, serta menghentikan serangan terhadap aset-aset kemanusiaan."
Sejak akhir Desember 2025 lalu, otoritas setempat melaporkan bahwa kekerasan dan serangan udara yang kembali terjadi telah memaksa sekitar 280.000 orang mengungsi. Ant/Xinhua
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!