Kolaborasi Multipihak Dibutuhkan untuk Atasi Timbunan Sampah Plastik di Laut yang Kian Meningkat
📅 Jumat, 07 Nov 2025, 22:02 WIB | Oleh: Vitto Budi
Doc: istimewa
JAKARTA- The Habibie Center (THC) dan Ocean Affairs Council (OAC) Taiwan menyelenggarakan lokakarya internasional dengan mengusung tema “Indonesia-Taiwan Collaboration in Scaling Up Marine Plastic Debris Governance in the Indo-Pacific.”
Lokakarya internasional itu merupakan kelanjutan dari kerja sama THC dan OAC dalam proyek tata kelola sampah laut di Indonesia. Sesi lokakarya itu melibatkan pembicara dari Indonesia, Jepang, Filipina, dan Taiwan.
Acara dibuka oleh Direktur Eksekutif THC, Mohammad Hasan Ansori, Ph.D dan Direktur Departemen Pembangunan Internasional OAC, Lee Shan Ying, Ph.D.
Dalam pidato pembukaanya, Ansori menggarisbawahi urgensi kolaborasi multipihak yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan di wilayah tangkapan sampah laut di Indo-Pasifik, terutama Indonesia dan Taiwan.
“Masalah timbunan sampah plastik di laut sudah semakin mendesak dan semakin meningkat setiap tahunnya telah mencemari laut dan sekitarnya, sehingga diperlukan kolaborasi multipihak yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan di wilayah tangkapan sampah laut di Indo-Pasifik, terutama Indonesia dan Taiwan,” kata Ansori.
Sebaiknya Anda baca juga:
Kerja sama itu bertujuan untuk mengintegrasikan kekuatan dan berbagi pengalaman dalam meminimalisasi sampah yang lepas ke badan air, seperti sungai, danau, dan laut.
Sementara itu, Lee Shan Ying dari OAC menyambut baik pandangan Ansori. Menurut Lee, kolaborasi multipihak penting untuk melibatkan generasi muda. Taiwan memiliki ragam inovasi berbasis komunitas yang dikelola oleh anak-anak muda secara aktif. Hal itu karena sejak kecil, mereka sudah dibiasakan untuk memilah sampah, baik itu sampah plastik, sampah makanan, maupun jenis sampah lainnya.
“Hal ini terus kami dorong melalui pengajaran di sekolah dan peningkatan kesadaran tentang pentingnya memiliki lingkungan yang bersih,” jelas Lee.
Sebaiknya Anda baca juga:
Lebih lanjut, dia menegaskan bahwa kapasitas Taiwan dalam menghadirkan berbagai inovasi berbasis komunitas, dipadukan dengan tingginya antusiasme terhadap inovasi daur ulang di Indonesia, dapat menjadi katalis bagi terciptanya perubahan positif di bidang tata kelola sampah di Indo-Pasifik.
Tiga Sesi
Pelaksanaan lokakarya internasional terdiri dari tiga sesi utama. Pada sesi pertama bertajuk mempromosikan kemitraan multipihak dalam pencegahan sampah plastik laut di Indo-Pasifik’, yang disampaikan oleh Prof. Muhammad Reza Cordova, Konsultan The Habibie Center dan Peneliti Ahli Utama, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Pada sesi itu, Reza menyampaikan bahwa meskipun implementasi Peraturan Presiden Nomor 83 Tahun 2018 tentang Penanganan Sampah Laut menunjukkan pengurangan sampah darat yang masuk ke laut sebesar 41,68 persen, capaian tersebut masih belum cukup.
“Diperlukan tata kelola sampah dan perubahan sistemik dengan menargetkan intervensi secara menyeluruh, mulai dari hulu ke hilir,” kata Reza.
Selanjutnya, sesi kedua, Michikazu Kojima, Senior Research Fellow di isu lingkungan dari Economic Research Institute for ASEAN and East Asia (ERIA) dan Kim Cyrus M. Miranda, Spesialis Manajemen Lingkungan, Divisi Pesisir dan Kelautan Bagian Kemitraan Terpadu Pesisir dan Kelautan, Departemen Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam, Filipina.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!