Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Militerisasi Siswa di Jawa Barat, KPAI: 6,7 Persen Siswa Tidak Tahu Alasan Ikuti Program

📅 Sabtu, 17 Mei 2025, 18:00 WIB | Oleh:
Militerisasi Siswa di Jawa Barat, KPAI: 6,7 Persen Siswa Tidak Tahu Alasan Ikuti Program Doc: Istimewa
Ket. Logo KPAI

JAKARTA - Pemerintah Provinsi Jawa Barat menggelar program membina siswa bermasalah dengan mengirim mereka ke barak militer. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), menemukan bahwa sebanyak 6,7 persen siswa tidak mengetahui alasan mereka dipilih mengikuti program.

"Sebanyak 6,7 persen siswa menyatakan tidak mengetahui alasan mereka dipilih mengikuti program. Temuan ini menunjukkan minimnya peninjauan kembali terhadap ketepatan sasaran peserta dalam pelaksanaan program," ujar Ketua KPAI, Ai Maryati, dalam konfetensi pers, di Jakarta, Jumat (17/5).

Dia menjelaskan, temuan tersebut berdasarkan temuan di dua lokasi penyelenggaraan program yaitu do Lembang dan Purwakarta. Faktor penyebab utama mereka masuk ke dalam program ini adalah karena kebiasaan merokok, disusul oleh perilaku sering membolos sekolah, dan di urutan ketiga adalah keterlibatan dalam tawuran.

"Peserta program tidak ditentukan berdasarkan asesmen psikolog profesional, melainkan hanya rekomendasi guru BK. Bahkan ada ancaman bahwa siswa yang menolak mengikuti program bisa tidak naik kelas," jelasnya.

Ai mengungkapkan, hasil wawancara sampel anak di dua lokasi pengawasan mengungkapkan bahwa perilaku menyimpang anak banyak dipengaruhi oleh kurang optimalnya pengasuhan di lingkungan keluarga. Hal ini disebabkan oleh kesibukan orang tua, perceraian, tidak tinggal bersama orang tua, serta harapan anak untuk mendapatkan bimbingan dari figur ayah.

"Selain itu, pengaruh teman sebaya dan lingkungan sekitar juga turut berperan," katanya.

Terkait pelaksanaan program, dia menuturkan, belum terdapat standar baku yang menjadi acuan dalam penyelenggaraan program, seperti belum ada panduan, petunjuk teknis (juknis) dan Standar Operasional Prosedur (SOP). Hal ini mengakibatkan adanya perbedaan pola pelaksanaan di 2 (dua) program yang dikunjungi.

Perbedaan tersebut mencakup struktur program, ketersediaan sarana prasarana, rasio antara peserta dan pembina, serta metode pengajaran mata pelajaran sekolah yang tidak seragam meskipun berasal dari jenjang kelas dan jurusan yang berbeda. Kondisi ini dikhawatirkan dapat menimbulkan masalah perlindungan anak secara berkelanjutan.

"Struktur program pendidikan karakter yang diterapkan di 2 lokasi dinilai cukup baik. Program ini memuat unsur-unsur penting seperti pendidikan karakter, penguatan nilai-nilai spiritual dan sosial, pembentukan kedisiplinan, peningkatan kemandirian, serta penanaman nilai-nilai kebangsaan," tuturnya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Memahami Kaum Furry, Orang-orang yang Mengidentifikasi Dirinya sebagai Binatang
    Nah thats right thank you ~
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...

Mike Flanagan Mengaku Belum Menonton Clayface

1 jam lalu | Selocahyo Basoeki Utomo S

Rona
Mike Flanagan Mengaku Belum...
Luar Negeri
Trump Bentuk Pasukan Intele...

AS, Tiongkok, dan Russia Berlomba Membangun Reaktor Nuklir di Bulan

1.5 jam yang lalu | Selocahyo Basoeki Utomo S

Luar Negeri
AS, Tiongkok, dan Russia Be...
Advertisement
Gila, 350 Rekor Lahir di Asian Games Jepang

Gila, 350 Rekor Lahir di Asian Games Jepang

04 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.