Toleransi Jangan Hanya Retorika Belaka
📅 Sabtu, 28 Des 2024, 00:00 WIB | Oleh: Tim PenulisKepastian kuota itu juga seperti tahun lalu ya. Jadi intinya seperti itu ya, kuota kita kan ditentukan oleh OKI (Organisasi Kerjasama Islam). Kami lebih mementingkan untuk membicarakan ketertibannya, tapi per hari ini kami tidak membicarakan tambahan kuota. Karena siapa tahu nanti tambahan kuota itu malah justru memberikan beban pelaksanaan ibadah haji ini.
Meski begitu, pemerintah akan membahas kuota haji dengan pemerintah Arab. Jadi, soal nanti kalau kita sudah siap dengan tambahan kuota, mungkin kita akan pikirkan. Tapi, kalau itu dimungkinkan dengan segala sesuatunya secara profesional, tidak tertutup kemungkinan untuk itu.
Saat ini, kita sudah melakukan seleksi calon jemaah haji ya, siapa saja yang Istitha'ah, siapa yang tidak Istitha'ah. Siapa yang sakit dan siapa yang meninggal. Prosesnya sudah 80 persen dan awal Januari ini sudah selesai siapa nanti akan jadi calon jemaah haji secara resmi.
Kemenag juga mengurusi pendidikan. Bagaimana pandangan Anda terkait pengelolaan pendidikan di Kemenag?
Sebaiknya Anda baca juga:
Pentingnya menanamkan rasa cinta sejak dini kepada anak-anak Indonesia. Karena itu, diperlukan pengembangan kurikulum yang berbasis cinta di lingkungan pendidikan agama dan keagamaan.
Guru lembaga pendidikan agama dan keagamaan tidak semata mengajarkan ilmu pengetahuan kepada anak. Lebih dari itu, mereka juga menanamkan nilai-nilai agama. Karena itu, metodologinya juga berbeda. Aktivitas di lembaga pendidikan agama dan keagamaan tidak semata belajar, mengerjakan PR (pekerjaan rumah), dan evaluasi, tapi juga diwarnai dengan kegiatan ibadah.
Guru berasal dari dua kata yakni ‘Gu’ artinya kegelapan, ‘Ru’ artinya obor. Maka guru itu berarti penerang dalam kegelapan. Di dalam dirinya ada wibawa spiritualitas. Selama ini, guru hanya dipahami sebagai pengajar. Sementara murid, artinya orang yang berkehendak serius untuk mendapatkan ilmu.
Sebaiknya Anda baca juga:
Presiden Prabowo Subianto menegaskan komitmennya untuk meningkatkan kesejahteraan guru. Bagaimana untuk pelaksanaannya di Kemenag?
Kami terus berupaya meningkatkan kesejahteraan guru melalui berbagai kebijakan, pelatihan, dan fasilitas yang memadai. Pemerintah juga terus berkomitmen untuk memastikan para guru memiliki hak yang sama sebagaimana insan pendidik lainnya. Kemenag juga terus berupaya meningkatkan kemampuan para guru agar kompeten dalam menghadapi tantangan dunia pendidikan yang semakin berkembang.
Kementerian Agama menganggarkan sejumlah anggaran dalam mendukung penyelenggaraan pendidikan nasional pada 2025. Kemenag misalnya menganggarkan 897.157.500.000 rupiah untuk Insentif Guru Non PNS. Kami terus berupaya mengusahakan peningkatan kesejahteraan guru sebagai pilar utama pendidikan.
Meski dengan keterbatasan anggaran, kami terus berupaya mencetak prestasi yang membanggakan di bidang pendidikan keagamaan. Walaupun demikian, tetap kita menampilkan satu penampilan yang luar biasa, karena sepertinya tidak kalah dengan penyelenggaraan pendidikan yang lain. Bahkan di tingkat madrasah, insan cendekia itu belum tertandingi sebagai urutan pertama sampai sekarang ini.
Koordinasi dengan kementerian pendidikan seperti apa?
Kami sudah membahas upaya percepatan proses Pendidikan Profesi Guru (PPG). Kami membahas upaya untuk mengatasi antrean PPG bagi guru mata pelajaran agama (Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, Konghucu) di sekolah umum dan guru mata pelajaran umum di lembaga pendidikan agama.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!