Toleransi Jangan Hanya Retorika Belaka
📅 Sabtu, 28 Des 2024, 00:00 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA/M Adimaja
Indonesia merupakan negara yang terkenal dengan keragamannya, termasuk dalam kehidupan beragama. Kerukunan menjadi penting untuk menjaga persatuan antarmasyarakat. Meski begitu kerap muncul banyak kasus di masyarakat yang berkaitan dengan konflik antarumat beragama.
Kementerian Agama (Kemenag) merupakan kepanjangan tangan pemerintah untuk mengurusi hal tersebut. Moderasi beragama menjadi hal yang kerap didengungkan untuk merawat kerukunan antarumat beragama. Meski begitu, Kemenag juga memiliki tugas lain seperti penyelenggaraan pendidikan serta penyelenggaraan ibadah haji.
Kedua hal tersebut juga tidak luput dari isu-isu yang butuh perhatian lebih. Terkait pendidikan, Presiden RI, Prabowo Subianto, menegaskan komitmennya untuk meningkatkan kesejahteraan guru. Terkait ibadah haji misalnya, sempat muncul polemik serta pembentukan Tim Panitia Khusus Ibadah Haji untuk mengevaluasi penyelenggaraan ibadah haji 2024.
Untuk mengetahui terkait ketiga isu tersebut, wartawan Koran Jakarta, Muhamad Ma'rup, mewawancarai Menteri Agama (Menag), Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA, dalam beberapa kesempatan. Berikut petikan wawancaranya.
Indonesia terkenal dengan keragamannya, termasuk dalam kehidupan beragama. Bagaimana Anda memandang hal tersebut?
Sebaiknya Anda baca juga:
Nilai jual Indonesia bukan hanya mineral yang diekspor ke berbagai negara. Ada juga salah satu selling point atau nilai jual Indonesia, yaitu kerukunan. Tidak ada negara seplural Indonesia yang mampu menciptakan kerukunan sedemikian indah di kolong langit ini, kecuali Indonesia.
Coba kita lihat di Timur Tengah, etniknya tidak lebih dari empat. Afghanistan ada tujuh etnik. Kita 1.500 lebih. Kondisi di negara-negara kawasan teluk yang hingga saat ini tidak kunjung lepas dari konflik. Padahal, bahasa mereka sama, peradabannya sama, tapi tidak bisa kompak.
Kita yang sedemikian luas, kepulauan, warna kulit berapa, bahasa berapa, tapi bisa kompak dalam Bhinneka Tunggal Ika. Ini lukisan Tuhan yang harus kita syukuri. Perbedaan adalah karunia Tuhan. Untuk itu, menjadi tugas warga Indonesia untuk merawat karunia Tuhan dalam bentuk Indonesia.
Sebaiknya Anda baca juga:
Indonesia itu lukisan hidup, lukisan Tuhan. Jangan ada yang mengacak-acak. Merusak itu perbuatan dosa. Indonesia sedemikian utuh, jangan ada yang mengacak-acak. Perbedaan harus dirayakan.
Toleransi tidak boleh hanya menjadi retorika belaka. Toleransi jangan hanya menjadi hiasan bibir. Toleransi yang sejati adalah kesediaan kita menerima orang yang berbeda dengan kita dengan tulus.
Bagaimana Anda mendorong agar terciptanya kerukunan antarumat beragama?
Saya sudah meminta Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BMBPSDM) untuk lebih aktif memotret dan memetakan fenomena kerukunan umat beragama di masyarakat. BMBPSDM adalah unit eselon I di Kemenag yang merupakan peralihan dari Badan Litbang dan Diklat Kemenag. Badan ini bertugas untuk merumuskan dan memberikan rekomendasi kebijakan di bidang moderasi beragama dan pengembangan sumber daya manusia di bidang keagamaan.
Tugas Kementerian Agama itu bukan bagaimana menyatukan umat, melainkan memberi pembelajaran pada umat bagaimana hidup berdampingan. Untuk dapat memberikan pembelajaran itu, kita perlu mengetahui mapping kerukunan masyarakat yang ada. Kehadiran BMBPSDM ini harus lebih aktif memotret berbagai fenomena (kerukunan) masyarakat yang ada.
Kita harus bersyukur kepada Tuhan karena memberi geografis Indonesia di posisi silang yang diapit oleh dua samudra dan diapit dua benua. Berada di pusat terpadat lalu lintas dunia, Indonesia dapat bertahan menjadi negara kesatuan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!