Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Maraknya ‘Rojali’ hingga ‘Roh Halus’: Tren Sesaat atau Perlambatan Bisnis Ritel?

📅 Jumat, 15 Agu 2025, 12:20 WIB | Oleh: Tim Penulis
Maraknya ‘Rojali’ hingga ‘Roh Halus’: Tren Sesaat atau Perlambatan Bisnis Ritel? Doc: The Conversation
Ket. Mal memang masih ramai, tapi lebih banyak didatangi mereka yang disebut ‘Rojali’ (rombongan jarang beli) dan ‘Rohana’ (rombongan hanya nanya).

Patria Laksamana, Perbanas Institute

Belakangan ini, banyak pembahasan mengenai tingkah laku masyarakat yang gemar ke pusat perbelanjaan, tapi jarang berbelanja. Mal memang masih ramai, tapi lebih banyak didatangi oleh mereka yang disebut ‘Rojali’ (rombongan jarang beli) dan ‘Rohana’ (rombongan hanya nanya).

Fenomena ini menunjukkan ritel di Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Kebiasaan masyarakat yang terbentuk pasca pandemi Covid-19, ditambah dinamika kondisi ekonomi global, mengubah perilaku konsumen jadi semakin berorientasi digital dan selektif dalam berbelanja.

Tengok saja kejatuhan sejumlah ritel besar nasional beberapa waktu ke belakang. Giant misalnya, menutup seluruh gerainya sejak Juli 2021.

Matahari, salah satu raksasa ritel di zamannya pun tak lepas dari tekanan dan berujung gelombang penutupan gerainya akhir-akhir ini. Meski masih memiliki 155 gerai di Indonesia, Matahari menghadapi tantangan rendahnya kedatangan pengunjung dan menurunnya daya beli masyarakat kelas menengah.

Dari Strolling ke Scrolling

Konsumen kini lebih menyukai scrolling layar ponsel ketimbang strolling (membawa gerobak belanjaan) di pusat perbelanjaan.

Sebab, hanya dari layar ponsel, mereka bisa membandingkan harga, melihat ulasan, dan mencari diskon secara real-time. Kemudahan tersebut tidak bisa didapat dari belanja cara lama.

Tingkat kepemilikan handphone di Indonesia saat ini mencapai 125%, melebihi total populasi penduduk, dan rata-rata seseorang online 7 jam 22 menit perhari. Semua situasi ini membuat ritel online laku keras, sebaliknya toko-toko offline terdampak.

Meski demikian, pusat perbelanjaan—yang mungkin masih ramai—tidak lagi mencerminkan daya beli yang kuat. Selain ‘Rojali’ dan ‘Rohana’ muncul pula ‘Roh halus’ (rombongan hanya mengelus produk). Semua ini mengindikasikan satu hal: kunjungan tidak selalu berarti transaksi.

Fenomena ini sejalan dengan catatan Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO) yang mencatat pertumbuhan ritel di Indonesia menurun menjadi sekitar 4,8% pada 2024 dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 5,3%.

Kondisi ini didorong pelemahan daya beli masyarakat sehingga menyebabkan deflasi. Hal ini diperburuk dengan maraknya gelombang PHK sejak awal 2025.

Tekanan Eksternal Ditambah Kondisi Internal Melemah

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Ekonomi
Utang RI Naik, Risiko Fiska...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Malam Suro: Dialektika Ruang Perjumpaan Tradisi, Agama, dan Sejarah

Malam Suro: Dialektika Ruang Perjumpaan Tradisi, Agama, dan Sejarah

16 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.