Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Tren 'Pacar AI' dan Sexbot, Revolusi Hubungan Digital yang Mengkhawatirkan

📅 Minggu, 20 Okt 2024, 10:22 WIB | Oleh: Tim Penulis

Banyak pengguna aplikasi ini semula memanfaatkannya untuk menjaga kenangan orang-orang terkasih yang sudah meninggal tetap hidup, tapi kini pemanfaatannya berkembang lebih jauh.

Muncul juga kekhawatiran akan potensi manipulasi emosional melalui AI yang bisa saja dilakukan oleh para penipu ulung dan diktator. Bayangkan malapetaka yang akan terjadi jika pemimpin negara otoriter, seperti Vladimir Putin dari Rusia atau Kim Jong-un dari Korea Utara, memanfaatkan teknologi ini untuk melengkapi operasi spionase siber mereka yang sudah luas.

Mungkin tidak lama lagi kita akan melihat perusahaan-perusahaan menawarkan pacar AI yang "berasal dari sumber yang bertanggung jawab" untuk menciptakan narasi tentang penggunaan teknologi AI dengan cara yang lebih etis. Ini mencakup pengembangan pacar AI yang diciptakan secara 'organik' dari konten yang 'dipanen' secara konsensual serta mempromosikan pornografi yang dapat diterima secara sosial.

Masyarakat dan negara harus bertindak sekarang

Dengan kesepian yang semakin merajalela di dunia modern-terutama di negara-negara maju-permintaan terhadap sexbot tampaknya akan terus tumbuh.

Survei menunjukkan bahwa satu dari empat orang di negara-negara yang tergabung dalam Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) dilaporkan tidak memiliki hubungan sosial yang bermakna. Jika tidak ada aturan jelas yang ditetapkan, perusahaan akan terus mengeksploitasi situasi ini demi meraih keuntungan.

Seks dan teknologi selalu berkembang bersama sepanjang sejarah. Eksploitasi seksual dan pencarian untuk memenuhi hasrat seksual telah ada sejak lama: layaknya prostitusi yang dianggap sebagai "profesi tertua", situs-situs pornografi menjadi salah satu sudut pertama di internet.

Namun teknologi baru AI ini membuat kita menghadapi sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya: mesin yang didesain untuk memenuhi hasrat paling intim kita, sepenuhnya dikendalikan oleh perusahaan besar.

Para pengguna juga tentu tidak sepenuhnya tak bersalah dalam hal ini. Menggantikan manusia sungguhan dengan mesin nafsu yang sepenuhnya patuh adalah sesuatu yang kejam.

Penelitian awal menunjukkan bahwa narsisme lazim terjadi di antara pengguna teknologi ini. Dengan kata lain, teknologi tersebut memungkinkan untuk memfasilitasi perilaku menyimpang menjadi sesuatu yang dianggap biasa. Sementara normalisasi perilaku seksual berbahaya seperti pemerkosaan, sadisme, atau pedofilia merupakan ancaman serius bagi masyarakat.

Namun, mengejar pengguna sebagai sasaran utama tampaknya bukan solusi yang efektif untuk masalah ini. Kita perlu memperlakukan penggunaan sexbot layaknya perilaku menyimpang lainnya, seperti perjudian.

Oleh karena itu, isu utama masalah ini lebih terletak pada penyedia daripada pengguna. Jadi, saatnya kita menuntut akuntabilitas dari penyedia sexbot. Dengan hubungan manusia yang semakin erat dengan teknologi AI, kita tidak memiliki banyak waktu untuk disia-siakan.The Conversation

Raffaele F Ciriello, Senior Lecturer in Business Information Systems, University of Sydney

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Daftar Produk Usang Apple, Ada iPhone X dan MacBook Pro 15, Siap-siap Sulit Layanan Perbaikan!
    Preview komentar:
    Kami pakai Apple bukan utk diperbaiki, rusak buang, ...
  • Sejahterakan Petani lewat Percepatan Hilirisasi Pangan
    Preview komentar:
    Langkah strategis pemerintah dalam mendorong percepatan hilirisasi pangan ...
  • BNI Perkuat Tata Kelola SDM lewat LSP dan Sertifikasi ISO
    Preview komentar:
    Langkah strategis BNI dalam mengintegrasikan lisensi resmi dari ...
Luar Negeri
Korban Tewas Tembus 2.100, ...
Presiden: Defisit RAPBN 2027 Ditargetkan 2,40 Persen, Turun Dari 2026

Presiden: Defisit RAPBN 2027 Ditargetkan 2,40 Persen, Turun Dari 2026

14 Aug 2026
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.