Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Tren 'Pacar AI' dan Sexbot, Revolusi Hubungan Digital yang Mengkhawatirkan

📅 Minggu, 20 Okt 2024, 10:22 WIB | Oleh: Tim Penulis

Perkembangan AI dan robot seks juga tidak terbatas pada dunia digital saja. Perusahaan penjual boneka seks, seperti Joy Love Dolls, menawarkan robot seks interaktif (sexbot) yang dirancang sangat mirip dengan manusia.

Pengguna sexbot ini tak hanya dapat menyesuaikan berbagai fitur fisik seperti warna kulit dan ukuran payudara, tetapi juga bisa mengendalikan fitur interaktif seperti gerakan, pemanasan suhu, dan suara-dengan kemampuan boneka ini untuk merespons dengan "erangan, jeritan, dan rayuan," sehingga dipromosikan sebagai "pasangan yang hebat."

Saat ini pasar teman virtual dan AI sexbot memang masih jauh lebih kecil dibandingkan dengan platform media sosial yang memiliki miliaran pengguna. Namun jika kita belajar dari sejarah perusahaan besar seperti Facebook, Google, dan Amazon, apa yang dianggap aneh dan unik di masa kini bisa saja memiliki potensi untuk tumbuh menjadi raksasa global di masa depan.

Menuju 'pacar AI' yang beretika?

Kemajuan teknologi AI dalam hubungan intim berpotensi memunculkan implikasi etis. Dengan kemampuan untuk memodifikasi pasangan AI sesuai keinginan pengguna, muncul pertanyaan mengenai batasan etika dan dampak dari interaksi ini.

Misalnya, pengguna dapat menyesuaikan sifat atau perilaku pasangan AI-seperti menonaktifkan fitur "cemburu"-yang mungkin tidak bisa dilakukan dalam hubungan manusia yang nyata.

Selain itu, pengguna dapat membuat beberapa pacar virtual sekaligus, yang selalu siap memenuhi keinginan mereka kapan saja. Fenomena ini mendorong diskusi mengenai bagaimana mengembangkan dan memperlakukan 'pacar AI' dengan cara yang etis, serta mempertimbangkan dampak jangka panjang terhadap hubungan sosial.

Aplikasi kencan seperti Tinder dan Bumble telah mengubah cara orang membangun hubungan. Kehadiran "pacar AI" ini mungkin akan lebih mengganggu. Bayangkan jika di masa depan orang-orang harus bersaing mencari cinta dengan sosok AI yang sempurna, yang tidak pernah lelah dan selalu bergairah.

Para pengguna juga mungkin akan menciptakan replika virtual dari pengalaman kencan yang tidak berhasil, memungkinkan mereka untuk merasakan kembali momen-momen tersebut dalam situasi yang lebih ideal.

Potensi penyalahgunaan AI kini semakin mengkhawatirkan. Investigasi ABC mengungkapkan meluasnya penggunaan AI generatif dalam menciptakan influencer palsu untuk konten pornografi, dengan memanipulasi foto wanita di media sosial tanpa persetujuan yang bersangkutan.

Konten tersebut sering menggambarkan standar kecantikan yang tidak realistis dan, dalam beberapa kasus, melibatkan individu yang tampaknya masih di bawah umur, menimbulkan masalah etika dan hukum.

Selain itu, teknologi AI sexbot juga bisa saja menghidupkan kembali selebriti yang telah meninggal seperti Marilyn Monroe dan Clara Bow. Hal ini menciptakan dilema moral karena individu yang sudah meninggal tidak dapat memberikan persetujuan atau menolak untuk digunakan dalam konteks yang mungkin tidak mereka setujui jika mereka masih hidup.

Replika sendiri terinspirasi dari keinginan pendirinya untuk menghidupkan kembali sahabatnya yang telah meninggal melalui chatbot.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Daftar Produk Usang Apple, Ada iPhone X dan MacBook Pro 15, Siap-siap Sulit Layanan Perbaikan!
    Preview komentar:
    Kami pakai Apple bukan utk diperbaiki, rusak buang, ...
  • Sejahterakan Petani lewat Percepatan Hilirisasi Pangan
    Preview komentar:
    Langkah strategis pemerintah dalam mendorong percepatan hilirisasi pangan ...
  • BNI Perkuat Tata Kelola SDM lewat LSP dan Sertifikasi ISO
    Preview komentar:
    Langkah strategis BNI dalam mengintegrasikan lisensi resmi dari ...
Luar Negeri
Korban Tewas Tembus 2.100, ...
Presiden: Defisit RAPBN 2027 Ditargetkan 2,40 Persen, Turun Dari 2026

Presiden: Defisit RAPBN 2027 Ditargetkan 2,40 Persen, Turun Dari 2026

14 Aug 2026
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.