Penelitian Terbaru Ungkap Insiden Bunuh Diri di Indonesia Bisa Empat Kali Lebih Tinggi dari Data Resmi
📅 Kamis, 26 Jan 2023, 21:23 WIB | Oleh: Ilham SudrajatIa mengakui bahwa selama 5 tahun terakhir memang ada perkembangan yang cukup pesat dalam kesadaran tentang kesehatan jiwa. Namun, pengerahan sumber daya dan usaha Indonesia mungkin baru 10 persen dari Australia, ujarnya, sementara di Australia bunuh diri masih jadi penyebab utama kematian bagi warga usia muda.
"Jadi kita efeknya baru sepersepuluh, dan negara yang jauh lebih maju saja problemnya masih besar. Jadi kita enggak bisa mimpi untuk menyelesaikan masalah ini, dengan upaya maupun organisasi yang ada sekarang," kata Sandy.
Dianggap Aib
Menurut Sandy, stigma seputar bunuh diri menjadi salah satu hambatan terbesar dalam pendataannya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Di Indonesia, bunuh diri dipandang sebagai aib - hal yang begitu memalukan, sehingga tidak ada padanan kata yang tepat dalam bahasa Inggris. Banyak yang menganggap tindakan itu sebagai kegagalan moral.
"Polisi dan rumah sakit pun mengerti karena di beberapa desa kalau misalnya ketahuan anggota keluarga bunuh diri itu nanti dikata-katain bahwa orang tuanya nggak benar lah, pasti mereka ada dosa lah, mereka doanya nggak benar lah. Jadi untuk menghindari mereka distigmatisasi seperti itu, maka orang itu akan kemungkinan lebih besar tidak melaporkan bahwa itu kejadian bunuh diri," tutur Sandy, seraya menambahkan bahwa stigma dan tabu ini ada di semua lapisan masyarakat.
Agama juga berperan, kata Sandy, di mana orang yang bunuh diri dianggap telah melakukan dosa besar dan orang yang depresi kerap dipandang "kurang iman". Menurut pengamatan dia, keyakinan agama dapat menghentikan seseorang untuk mencoba bunuh diri maupun mencegah seseorang untuk mencari pertolongan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pandangan tentang bunuh diri tidak lepas dari stigma seputar masalah kesehatan jiwa yang masih ada di masyarakat. Banyak orang dengan masalah psikososial masih dieksklusi dari kegiatan sosial.
Hal itu dirasakan sendiri oleh Desty, yang mengatakan dia pernah kehilangan pekerjaan sebagai pengajar setelah kepala sekolah mengetahui bahwa dia menderita masalah psikososial.
"Ini membuat saya berpikir, Lah wong saya saja yang kesehatan jiwanya sudah pulih belum bisa dipercaya orang, kalau misal orang tahu saya pernah berusaha bunuh diri pasti saya akan malu," ujar dia.
Arshinta dari Pusat Rehabilitasi Yakkum mengatakan survei yang dilakukan organisasinya dalam rangka program kesehatan jiwa berbasis masyarakat di 11 desa di Yogyakarta pada 2017 menemukan bahwa 70 persen orang dengan masalah kejiwaan tidak punya kegiatan produktif.
"Ketika masyarakat ditanya, mengapa (mereka) tidak dilibatkan, jawabnya takut, atau tidak tahu apakah mereka (orang dengan masalah kejiwaan) bisa ngapa-ngapain," kata Arshinta.
Dia mengatakan, intervensi berbasis masyarakat dengan mengajak pemimpin agama terbukti efektif menangkal stigma tersebut. Setelah empat tahun, jumlah orang dengan masalah kejiwaan yang terlibat dalam kegiatan produktif meningkat dari 30 persen jadi hampir 70 persen.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!