Penelitian Terbaru Ungkap Insiden Bunuh Diri di Indonesia Bisa Empat Kali Lebih Tinggi dari Data Resmi
📅 Kamis, 26 Jan 2023, 21:23 WIB | Oleh: Ilham SudrajatSRS adalah survei yang bertujuan mengetahui angka dan penyebab kematian secara mendetail. Survei ini dilakukan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, yang sekarang sudah berganti nama menjadi Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan.
Merujuk data SRS pada tahun 2018, yang sudah disesuaikan dengan estimasi kelengkapan survei 55 persen, angka kematian akibat bunuh diri di Indonesia sebesar 1,12 per 100.000 penduduk.
Menurut Bank Dunia, jumlah penduduk Indonesia pada 2018 adalah 267,1 juta jiwa. Ini berarti ada 2.992 kematian akibat bunuh diri di tahun tersebut.
Peneliti di Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan, Yuslely Usman, mengatakan dugaan angka bunuh diri sebenarnya lebih tinggi dari data resmi itu mungkin, mengingat SRS mencatat lebih banyak kematian daripada yang tercatat di Sistem Admin Kependudukan (Adminduk).
Sebaiknya Anda baca juga:
Dia mengatakan, pelaporan kematian di Indonesia "belum sempurna".
Peraturan meminta RT/RW melaporkan kematian ke Dukcapil, sehingga keluarga memperoleh akta kematian. Namun ini bukan hal wajib, sehingga banyak keluarga yang tidak melaporkannya.
"(Kematian) umum aja mereka tidak melaporkan, enggak ada untungnya mereka mendapatkan akta kematian itu. Apalagi bunuh diri, banyak yang menutup-nutupi," kata Yuslely.
Sebaiknya Anda baca juga:
Namun dia menerangkan bahwa sebenarnya, kasus bunuh diri itu perlu dikonfirmasi oleh polisi. Kepolisian biasanya membedakan antara tiga jenis kematian tidak alami (unnatural death) - kecelakaan murni, pembunuhan, atau bunuh diri.
Akan tetapi, banyak masyarakat tidak melaporkan kasus kematian tidak alami, ungkap Yuslely.
Karena data bunuh diri di Indonesia under-reported - angka sebenarnya lebih kecil dari yang tercatat - persoalan bunuh diri juga under-resourced - sumber daya yang dicurahkan untuk menanganinya kecil, kata Sandy.
"Karena kalau kita lihat hanya sebatas datanya saja kok problemnya kelihatan kecil maka resource yang kita akan taruh untuk menangani problem tersebut itu kecil ... Tapi pas ketahuan publik yang besar maka resource yang akan diberikan itu akan lebih besar menurut saya. Resource yang ada saat ini: sangat, sangat, sangat, sangat kurang," ujar dia.
Contohnya, kata Sandy, saat ini Indonesia tidak memiliki layanan hotline yang berkelanjutan dan konsisten. Banyak hotline bunuh diri didanai secara pribadi dan tutup ketika dananya habis.
Ini tidak bagus, menurut Sandy, karena bisa membuat orang lama-lama tidak percaya pada hotline.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!