Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Ketika Ilmuwan Mencoba Memutar Balik Waktu pada Mata Manusia

📅 Senin, 15 Jun 2026, 07:08 WIB | Oleh:
Ketika Ilmuwan Mencoba Memutar Balik Waktu pada Mata Manusia Doc: Foto Life Biosciences
Ket. Uji klinis ini melibatkan orang-orang dengan gangguan penglihatan akibat salah satu dari dua penyakit mata: OAG atau NAION.

SEBUAH laboratorium bioteknologi di Amerika Serikat, sedang menjalankan  gagasan yang selama bertahun-tahun terdengar seperti fiksi ilmiah. Mereka kini mulai menguji pada manusia, terkait dengan upaya revolusioner: mengembalikan sel-sel mata yang menua ke kondisi yang lebih muda.

Awal Juni ini, perusahaan bioteknologi Life Biosciences mengumumkan bahwa pasien pertama telah menerima terapi gen eksperimental bernama ER-100. Bagi sebagian ilmuwan, ini merupakan langkah penting menuju era baru pengobatan regeneratif.

Bagi yang lain, ini adalah eksperimen berisiko tinggi yang masih menyimpan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban. Namun di balik pengumuman tersebut tersimpan ambisi besar: membuktikan bahwa penuaan biologis mungkin bukan proses satu arah yang tidak dapat dibalik.

Pilihan untuk memulai eksperimen pada mata bukanlah kebetulan. Mata merupakan salah satu organ yang paling mudah diamati secara langsung oleh ilmuwan. Perubahan yang terjadi pada jaringan mata dapat dipantau dengan tingkat presisi yang tinggi tanpa perlu prosedur invasif yang rumit. Selain itu, sejumlah penyakit mata degeneratif seperti glaukoma dan kerusakan saraf optik masih memiliki pilihan terapi yang sangat terbatas.

Fokus utama ER-100 adalah sel ganglion retina, yaitu sel saraf yang bertugas membawa informasi visual dari mata menuju otak. Ketika sel-sel ini rusak, kemampuan melihat dapat menurun secara permanen karena tubuh manusia hampir tidak memiliki mekanisme alami untuk memperbaikinya.

Selama ini, dokter hanya mampu memperlambat kerusakan yang terjadi. Mengembalikan fungsi sel yang telah rusak masih menjadi tantangan besar dalam dunia oftalmologi. Life Biosciences ingin mengubah kenyataan tersebut.

Alih-alih sekadar mencegah kerusakan lebih lanjut, para peneliti berusaha meremajakan sel yang sudah menua dan kehilangan fungsi. Jika berhasil, pendekatan ini dapat membuka kemungkinan baru dalam pengobatan berbagai penyakit degeneratif yang selama ini dianggap tidak dapat dipulihkan.

Teori yang Mengguncang Dunia Longevity

Di balik ER-100 berdiri sosok yang sudah lama menjadi figur kontroversial dalam dunia penelitian penuaan: David Sinclair, ahli genetika dari Harvard University. “Ini adalah momen penting bagi Life Bio dan bagi bidang biologi penuaan,” dikutip dari Science Alert.

Selama lebih dari satu dekade, Sinclair menjadi salah satu pendukung utama gagasan bahwa penuaan bukan semata-mata akibat akumulasi kerusakan DNA. Menurut teorinya, penyebab utama penuaan adalah hilangnya informasi epigenetik, yakni sistem pengaturan yang menentukan gen mana yang harus aktif dan kapan gen tersebut bekerja.

“Penelitian kami menunjukkan bahwa penuaan sebagian besar disebabkan oleh hilangnya informasi epigenetik, bukan kerusakan permanen. Studi klinis ini merupakan kesempatan pertama untuk menguji apakah pemulihan informasi tersebut dapat memperbaiki penyakit pada manusia,” tambah David.

Analogi yang sering digunakan adalah sebuah perangkat lunak komputer. DNA adalah perangkat keras yang menyimpan seluruh informasi dasar, sedangkan epigenetik adalah sistem operasi yang mengatur cara perangkat keras itu ­digunakan.

Seiring bertambahnya usia, “sistem operasi” tersebut diyakini mengalami gangguan. Akibatnya, sel tidak lagi menjalankan fungsi secara optimal meskipun DNA-nya masih relatif utuh.

Jika gangguan itu dapat diperbaiki, Sinclair berpendapat, maka sel berpotensi kembali berperilaku seperti saat masih muda.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Megapolitan
Imbas Marathon Hari Ini! Ce...

Duel Langit F-35 AS vs Su-57 Russia, Siapa Pemenangnya?

4 jam yang lalu | Selocahyo Basoeki Utomo S

Luar Negeri
Duel Langit F-35 AS vs Su-5...
Luar Negeri
Khawatir Ratusan Tentara Ru...
Di Balik Panen Melimpah Badui, Ada Warisan Bertani yang Terjaga Lintas Generasi

Di Balik Panen Melimpah Badui, Ada Warisan Bertani yang Terjaga Lintas Generasi

04 Jul 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.