Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

PBB Desak Perusahaan AI Transparan atas Jejak Lingkungannya

📅 Rabu, 24 Jun 2026, 02:30 WIB | Oleh: Tim Penulis
PBB Desak Perusahaan AI Transparan atas Jejak Lingkungannya Doc: AFP/JUSTIN TALLIS
Ket. Antonio Guterres

PARIS – Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, pada Selasa (23/6) menyerukan tindakan yang lebih cepat terhadap pemanasan global, menantang perusahaan-perusahaan raksasa kecerdasan buatan (AI) untuk transparan atas jejak lingkungan mereka dan memperingatkan bahwa penggunaan bahan bakar fosil mendorong krisis iklim dan energi.

Ketika Eropa terpanggang di bawah gelombang panas kedua dalam beberapa bulan, Sekjen Guterres menyampaikan pidato di London yang mendeskripsikan gambaran yang nyata tentang sebuah planet yang baru saja mengalami rekor 11 tahun terpanas.

"Kekacauan iklim semakin cepat di depan mata kita, sementara krisis energi, yang dipicu oleh perang di Timur Tengah, mengungkap kebodohan dunia yang terpikat pada hidrokarbon," kata Guterres. "Jelas bahwa dunia kita sedang menghadapi Kisah Dua Krisis," imbuh dia, merujuk pada A Tale of Two Cities karya penulis Inggris abad ke-19, Charles Dickens.

"Di permukaan, krisis ini mungkin tampak terpisah. Namun bahan bakar tersebut memiliki asal usul yang sama: Bahan bakar fosil,” kata dia pada London Climate Action Week, sebuah pertemuan tahunan para pembuat kebijakan, eksekutif perusahaan, dan LSM.

Guterres lalu mengumumkan inisiatif baru untuk memerangi emisi metana dan mengatasi kekhawatiran atas dampak lingkungan dari pusat data yang haus energi. Meningkatnya penggunaan energi, air, dan lahan dari pusat data yang merupakan gudang server yang luas yang mendukung AI dan layanan digital lainnya, memberikan tekanan pada masyarakat lokal dan lingkungan.

Sebuah studi PBB awal bulan ini menemukan bahwa fasilitas tersebut mengkonsumsi lebih banyak listrik dibandingkan semua negara kecuali 10 negara pada tahun 2025. Pada tahun 2030, mereka dapat menggunakan lebih banyak energi listrik daripada semua kecuali lima negara, studi tersebut menemukan.

Guterres meluncurkan Inisiatif Transparansi Lingkungan AI, mendesak setiap perusahaan kecerdasan buatan besar untuk mengukur dan mengungkapkan secara terbuka dampak lingkungannya serta berkomitmen untuk memberi daya pada setiap pusat data dengan energi terbarukan pada tahun 2030.

"Sudah waktunya untuk berterus terang. Jika AI bertujuan untuk membantu membangun masa depan yang lebih baik, itu harus jujur tentang apa dampaknya bagi kita sekarang ini," ucap Guterres.

Keluar Jalur

Guterres kemudian memperingatkan bahwa dunia akan menghadapi bahaya keluar jalur dalam upaya mencapai tujuan global untuk mencapai emisi nol bersih pada tahun 2050.

Sebelumnya negara-negara di dunia sepakat untuk mengejar upaya untuk membatasi pemanasan hingga 1,5 Celsius di atas tingkat pra-industri di bawah Perjanjian Paris 2015, tetapi para ilmuwan saat ini mengatakan bahwa ambang batas dapat dilanggar sekitar tahun 2030.

"Kita harus bertindak dengan urgensi yang jauh lebih besar untuk secara ketat membatasi besaran dan durasi melampaui 1,5 Celsius," ucap  Guterres. “Meningkatnya suhu mendorong dunia lebih dekat ke titik kritis bencana,” tegas dia.

Dewan Penasihat Ilmiah PBB sebelumnya telah merilis laporan yang menguraikan bahaya melintasi titik kritis yang tidak dapat diubah, mulai dari pencairan es yang selanjutnya akan menaikkan permukaan laut hingga runtuhnya terumbu karang dan penggundulan hutan Amazon.

Oleh karena itu Guterres menyerukan pengurangan cepat emisi CO2 dari minyak, gas dan batu bara yang menjadi pendorong utama pemanasan jangka panjang.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta
Nasional
Unjuk rasa mahasiswa dan ma...
Daerah
Peluncuran bus listrik proy...

Pembukaan Festival Budaya Kerinci 2026

26 menit yang lalu | Wahyu AP

Daerah
Pembukaan Festival Budaya K...
Megapolitan
Aksi desak evaluasi perdaga...

Peremajaan lahan perkebunan kelapa

35 menit yang lalu | Wahyu AP

Daerah
Peremajaan lahan perkebunan...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

22 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.