Penelitian Terbaru Ungkap Insiden Bunuh Diri di Indonesia Bisa Empat Kali Lebih Tinggi dari Data Resmi
📅 Kamis, 26 Jan 2023, 21:23 WIB | Oleh: Ilham Sudrajat
Doc: BBC/Getty Images
JAKARTA -Pada 2023, Desty Endah Nurmalasari membuat resolusi untuk menjadi lebih tenang. Dia bertekad untuk memperbaiki ibadah, dan lebih banyak berbicara dengan keluarga dan kawan-kawannya. Sudah lebih dari 10 tahun perempuan berusia 34 tahun itu bergelut dengan masalah kejiwaan, yang pernah mendorongnya untuk hampir bunuh diri.
Desty didiagnosis dengan gangguan bipolar pada 2012, satu hari setelah dia diwisuda. Karena waktu itu belum mengerti tentang masalah jiwa, dia memutuskan untuk berhenti berobat setelah tujuh bulan. Namun halusinasinya mulai kambuh lagi dan dia mulai mendengar "bisikan" di kepalanya.
Halusinasi itu semakin hari semakin parah dan mengarah ke pikiran untuk bunuh diri.
"Bisikannya begini, 'Desty, coba kamu pergi ke tengah jalan raya situ'," tutur dia seperti dilansir kantor berita BBC News Indonesia, Rabu (25/1)
Beberapa tahun sebelumnya, kampung tempat tinggal Desty di Yogyakarta diguncang dengan kasus bunuh diri. Seorang perempuan di rumah tetangganya memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan meminum obat nyamuk. Selang beberapa tahun kemudian kakak perempuan itu - dari keluarga yang sama - melakukan gantung diri di depan rumahnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Desty menyaksikan sendiri bagaimana dua insiden tersebut membuat orang-orang "heboh" dan menjadikan keluarga itu bahan omongan di kampung. Keluarga itu sendiri menganggapnya sebagai "luka", dan tidak pernah menyinggungnya lagi.
Bagi Desty, pengalaman itu justru membuat dia tidak jadi bunuh diri dan mulai mencari pertolongan.
"Itu mungkin yang membuat saya sadar bahwa bunuh diri itu masih dianggap aib dan tidak baik. Itu yang membuat ketika saya ada suara-suara untuk bunuh diri, saya langsung lapor kepada orang tua," ungkap dia.
Sebaiknya Anda baca juga:
Meskipun pada kasus Desty dampaknya baik, anggapan bahwa bunuh diri adalah aib menjadi salah satu penyebab persoalan ini sebagian besar masih terabaikan di Indonesia. Anggapan tersebut membuat banyak keluarga cenderung tidak melaporkan kasus bunuh diri.
Sebuah studi pada tahun 2022 menemukan bahwa angka bunuh diri di Indonesia mungkin empat kali lebih besar daripada data resmi. Kurangnya data telah menyembunyikan skala sebenarnya dari persoalan bunuh diri di Indonesia, menurut sejumlah pakar.
Padahal, WHO mengatakan bunuh diri adalah penyebab kematian terbesar keempat di antara orang-orang berusia 15-29 tahun di seluruh dunia pada 2019.
Studi tahun 2022 itu, yang belum melalui proses telaah sejawat, membandingkan data kepolisian, yang merupakan data resmi untuk bunuh diri, dengan Sample Registry System (SRS) di Kementerian Kesehatan.
Dr Sandersan Onnie, mahasiswa pasca-doktoral di Black Dog Institute Australia dan peneliti utama dalam studi tersebut, mengatakan angka bunuh diri yang sebenarnya bisa jauh lebih besar dari yang terlapor karena berbagai masalah dalam alur pendataan.
"Di setiap proses dalam alur ini bisa terjadi ada error-nya atau ada flaw-nya di mana misalnya keluarganya nggak mau kasih tahu polisi karena mereka malu karena stigma. Ataupun karena polisinya itu juga ingin melindungi keluarganya maka tidak diinvestigasi lebih jauh karena ini bunuh diri; kalau ada dokter di rumah sakit juga sama, untuk melindungi keluarganya tidak melaporkan bahwa ini bunuh diri," kata dr Sandy - demikian panggilan akrab dia.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!