“Stunting' Bukti Kemiskinan Ekstrem akibat BLBI
📅 Selasa, 21 Jun 2022, 00:04 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: DOK KJ/ANTARA
» Belanja negara habis disedot pembayaran bunga obligasi rekapitalisasi BLBI yang jika ditotal bisa mencapai 5.000 triliun rupiah.
» Masih tingginya angka stunting di Indonesia layak disebut sebagai bencana kemanusiaan.
JAKARTA - Data Survei Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI) Tahun 2021 menunjukkan prevalensi stunting setelah 77 tahun Indonesia merdeka masih 24,4 persen atau 5,33 juta balita. Dengan angka yang masih tinggi itu, sangat sulit diterima sebagai sesuatu yang wajar dan stunting adalah bukti kemiskinan ekstrem di Indonesia.
Sulitnya mengurangi angka stunting itu ditengarai karena masih tingginya angka kemiskinan yang salah satunya disebabkan oleh skandal Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) yang hingga saat ini masih banyak yang belum dikembalikan para debitur.
Sebaiknya Anda baca juga:
Selain BLBI, kemiskinan juga dipicu minimnya anggaran untuk membiayai program kemiskinan karena belanja habis disedot pembayaran bunga obligasi rekapitalisasi BLBI yang jika ditotal bisa mencapai 5.000 triliun rupiah.
Pengamat Ekonomi dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Achmad Maruf, yang diminta pendapatnya, Senin (20/6), mengatakan jika negara tidak serius menghentikan stunting.
"Membiarkan sampai jutaan bayi kekurangan gizi, itu merupakan tindakan kejahatan besar kemanusiaan. Orang tua pasti tidak rela membiarkan anak balitanya kekurangan gizi, hanya diberi air tajin. Itu karena benar-benar tidak mampu," katanya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pemerintah seharusnya bisa mengurangi pengeluaran-pengeluaran yang tidak perlu, bahkan pengeluaran yang bermasalah seperti pembayaran bunga obligasi rekap. "Konglomerat disubsidi, bayi yang baru lahir dibiarkan stunting. Ini harus dihentikan," papar Maruf.
Apalagi Menteri Keuangan, Sri Mulyani, kerap menyoroti stunting ini sebagai ancaman yang bisa merusak fondasi bangsa. Semestinya dia menindaklanjuti dengan menyiapkan anggaran untuk memperbaiki gizi anak dengan melalui pemberian asupan gizi di sekolah-sekolah dan keluarga miskin.
"Bayangkan kalau anggaran sebesar itu untuk menciptakan lapangan kerja dan gizi anak rakyat jelata. Ini kejahatan kemanusiaan kepada rakyat yang dipelihara. Bagaimana pemerintah mensubsidi para rampok negara dengan obligasi rekap bunga berbunga kepada obligor BLBI. Orang yang merampok dikasih uang oleh negara, sedangkan rakyatnya dalam kondisi miskin ekstrem," kata Maruf.
Secara terpisah, Pakar Ekonomi Universitas Brawijaya, Malang, Munawar Ismail, mengatakan skandal BLBI sangat merugikan masyarakat dan berdampak besar pada banyak aspek pembangunan, termasuk stunting.
Celakanya, bantuan itu tidak dipakai untuk menyehatkan bank, tapi dibawa lari. Sama sekali tidak produktif.
Prioritas Nasional
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!