Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Terungkap Penyebab Lonjakan Titik Panas di NTB dari 21 Menjadi 152

📅 Selasa, 15 Sep 2026, 22:17 WIB | Oleh: Tim Penulis
Terungkap Penyebab Lonjakan Titik Panas di NTB dari 21 Menjadi 152 Doc: Antara
Ket. Peta sebaran titik panas di wilayah Nusa Tenggara Barat pada 15 September 2026.

Mataram - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan, perbedaan waktu akuisisi citra satelit menjadi salah satu faktor penyebab lonjakan titik panas atau hotspot di Nusa Tenggara Barat (NTB) dari 21 menjadi 152 titik dalam sehari.

Prakirawan Cuaca Stasiun Meteorologi Zainuddin Abdul Madjid (ZAM) Gede Dedy mengatakan perbedaan jumlah hotspot antara 14 dan 15 September 2026 tidak langsung merujuk pada peningkatan jumlah kebakaran.

"Titik panas merupakan hasil deteksi satelit terhadap adanya anomali atau sumber panas di permukaan bumi," ujar dia saat dikonfirmasi di Mataram, Selasa.

Gede menjelaskan satelit mendeteksi suhu suatu piksel yang lebih tinggi dibandingkan kondisi di sekitarnya, kemudian menganalisisnya untuk menentukan tingkat kepercayaan hasil deteksi.

Titik panas bukan berarti lokasi tersebut pasti sedang terbakar, tetapi menunjukkan adanya indikasi panas yang berpotensi berkaitan dengan kebakaran.

Tingkat kepercayaan rendah, sedang, dan tinggi menunjukkan tingkat keyakinan hasil deteksi satelit terhadap indikasi keberadaan titik panas tersebut.

"Semakin tinggi tingkat kepercayaannya, semakin kuat indikasi bahwa anomali panas tersebut berkaitan dengan potensi kebakaran," kata Gede.

Lebih lanjut dia memaparkan secara meteorologis kondisi suhu yang relatif tinggi, kelembapan rendah, serta kondisi angin juga dapat memengaruhi perbedaan jumlah titik panas dari hari ke hari.

Namun selain faktor meteorologis, perbedaan waktu penerimaan citra satelit turut berpengaruh terhadap jumlah titik panas yang terdeteksi.

Pada 14 September 2026, citra yang digunakan BMKG diterima sekitar pukul 15.00 WITA, sehingga titik panas yang terdeteksi hanya 21 titik.

"Sementara hari ini citra diterima sekitar pukul 17.00 WITA, sehingga memiliki waktu pengamatan yang lebih panjang dan memungkinkan lebih banyak anomali panas terdeteksi," ucap Gede.

Berdasarkan hasil pemantauan citra satelit oleh BMKG, sebaran titik panas terpantau terkonsentrasi di wilayah Sumbawa Besar serta Bima dan Dompu. Terdapat empat titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi yang ditandai dengan titik berwarna merah pada citra.

BMKG mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan di wilayah Nusa Tenggara Barat.

"Hindari aktivitas pembakaran sampah dan tidak membuang puntung rokok secara sembarangan, khususnya di wilayah yang memiliki konsentrasi titik panas cukup tinggi," pungkas Gede.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • UU Reforma Agraria Ditantang Bereskan Akar Konflik Tanah
    Menterinya aja kena OTT KPK :D
  • Menekraf: Aplikasi Digital Kini Jadi Denyut Nadi Aktivitas Masyarakat, Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
    Membaca pemaparan komprehensif ini membuat saya semakin optimis ...
  • Ekonomi Kreatif dan UMKM Jakarta Mulai Andalkan Cetak 3D untuk Produksi Skala Kecil
    Mengetahui fakta bahwa penggunaan filamen berbasis PLA yang ...
  • Industri Baterai Dipacu, Transisi Energi dan Ekonomi Digital Jadi Kunci
    Ulasan yang sangat komprehensif dari Koran Jakarta mengenai ...
  • Bos Perusahaan AI Dunia Ingin Perlambat Pengembangan, Persaingan AS-Tiongkok Jadi Hambatan
    Sangat disayangkan melihat bagaimana niat baik untuk mengkaji ...
Luar Negeri
Ukraina Janji Tak Akan Meny...
Advertisement
Bebas dari Jalur Neraka, Jalan Parung Panjang Rampung Diperbaiki, Truk ODOL Dilarang Melintas!

Bebas dari Jalur Neraka, Jalan Parung Panjang Rampung Diperbaiki, Truk ODOL Dilarang Melintas!

15 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.