Optimalisasi Belanja harus Beri Manfaat yang Besar bagi Masyarakat
📅 Selasa, 15 Sep 2026, 03:15 WIB | Oleh: Tim RedaksiJAKARTA - Menteri Keuangan Suahasil Nazara seusai dilantik di Istana Negara Jakarta, Senin (14/9) menyampaikan bahwa efisiensi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) bukan sekadar memangkas anggaran, melainkan mengoptimalkan belanja untuk menghasilkan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat.
“Efisiensi itu adalah menggunakan belanja yang ada untuk menghasilkan output yang maksimal, output yang kemudian bermanfaat bagi masyarakat,” kata Suahasil.
Ia mengatakan efisiensi merupakan bagian dari pengelolaan APBN secara menyeluruh yang mencakup penerimaan, belanja, dan pembiayaan. Melalui pengelolaan belanja yang tepat sasaran, anggaran negara harus mampu menghasilkan manfaat nyata bagi masyarakat.
Terkait dengan pemangkasan drastis dana Transfer ke Daerah (TKD), Dosen Magister Ekonomi Terapan Unika Atma Jaya, YB. Suhartoko, menilai kebijakan Pemerintah tersebut membuat Pemerintah Daerah (Pemda) semakin berat menanggung beban operasional.
Dengan penurunan TKD sekitar 24,8 persen dari tahun sebelumnya, maka alokasinya hanya sekitar 650 triliun rupiah.
“Ini jelas bentuk sentralisasi,” ujar Suhartoko.
Menurut dia, dampak paling terasa ada di dua sisi. Pertama, beban operasional, terutama penurunan Dana Alokasi Umum (DAU) yang menyulitkan daerah membayar gaji pegawai dan membiayai operasional rutin.
Kedua, pembangunan dengan pemangkasan Dana Alokasi Khusus (DAK) menyebabkan laju pembangunan infrastruktur di daerah melambat. Proyek-proyek yang sudah direncanakan terpaksa tertunda.
“Ketika DAU seret, yang pertama kena adalah belanja wajib seperti gaji dan operasional kantor. Sementara DAK turun, infrastruktur jadi jalan di tempat,” jelasnya.
Kendati demikian, dia juga mengingatkan, Pemda agar membenahi pola penyaluran anggaran. Selama ini, ada masalah dalam penyerapan anggaran di tingkat daerah.
“Daerah juga perlu membuat evaluasi. Pada tahun-tahun sebelumnya pemerintah daerah seringkali tidak bisa melakukan realisasi anggaran sesuai perencanaan, sehingga dampak multipliernya rendah,” kata Suhartoko.
Bahkan, anggaran yang sudah ditransfer dari pusat rata-rata tidak langsung dibelanjakan, tetapi malah diendapkan di Bank Pembangunan Daerah (BPD).
“Dana yang seharusnya dibelanjakan untuk kegiatan ekonomi, kerap malah tertanam di surat berharga pemerintah pusat dan instrumen moneter seperti Sertifikat Bank Indonesia (SBI). Jadi uangnya ada, tapi tidak berputar di daerah,” tegasnya.
Hal itu tidak lepas dari rendahnya realisasi belanja daerah hingga pertengahan tahun.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!