Bikin Bangga! Pemuda Indonesia Juarai Kompetisi Video UNESCO di Italia
📅 Selasa, 15 Sep 2026, 05:47 WIB | Oleh: Marcellus WidiartoJAKARTA - Pemuda asal Pontianak, Kalimantan Barat, Veldesen Yaputra, mengukir prestasi internasional dengan meraih Juara II dalam kompetisi video program UNESCO x vivo yang berlangsung di Cagar Biosfer Tuscan-Emilian Apennine, Italia.
Penghargaan tersebut diraih pada 10 September 2026 setelah Veldesen bersaing bersama 15 peserta dari 13 negara dalam mempelajari dinamika hubungan manusia, budaya lokal, kegiatan ekonomi, dan perubahan lingkungan.
Wakil Delegasi Tetap Republik Indonesia untuk UNESCO, I.G.A.K. Satrya Wibawa, menyambut baik capaian tersebut sebagai bukti kapasitas generasi muda Indonesia dalam membawa perspektif nasional ke forum global.
“Prestasi Veldesen bukan hanya soal meraih penghargaan, tetapi juga tentang bagaimana anak muda Indonesia mampu membawa pengalaman, pengetahuan, dan perspektif kita ke dalam percakapan global mengenai keberlanjutan,” ujar Satrya dalam keterangan tertulisnya, Senin.
Satrya menekankan bahwa tantangan global seperti perubahan iklim membutuhkan kontribusi pemikiran dari berbagai negara, sehingga keterlibatan aktif generasi muda di panggung internasional menjadi sangat vital.
Veldesen, yang berlatar belakang pendidikan Environmental Design dari Tsinghua University, China, serta fokus pada arsitektur berkelanjutan dan green building, menyusun karya video berbasis riset lapangan dan pengalaman lintas budaya.
Selama empat hari kegiatan di Italia, ia berinteraksi langsung dengan warga lokal, produsen minyak zaitun, hingga peneliti lingkungan untuk merekam dampak nyata perubahan iklim pada ekosistem lokal.
Menurut Veldesen, para petani mulai menghadapi perubahan pada hasil pertanian dan siklus pertumbuhan tanaman akibat kondisi iklim yang berubah.
Pengalaman paling kuat baginya terjadi ketika rombongan mengunjungi Cagar Biosfer Tuscan-Emilian Apennine. Di sana, Veldesen melihat langsung sejumlah pohon yang mengering dan kehilangan daun. Berdasarkan percakapannya dengan peneliti lokal, perubahan tersebut berkaitan dengan perubahan kondisi lingkungan dan iklim.
Pengalaman itu memberikan perspektif baru mengenai keberlanjutan. Menurut Veldesen, kerusakan alam tidak selalu terjadi karena eksploitasi langsung oleh manusia. Perubahan iklim dapat mengubah ekosistem bahkan ketika tekanan manusia tidak terlihat secara langsung.
"Dunia sekarang sangat rapuh. Tanpa manusia menyentuh pun, alam bisa berubah," kata Veldesen.
Dalam video yang diproduksinya menggunakan telepon pintar, Veldesen menggabungkan tiga perspektif akademik dan geografis yang pernah dialaminya, yakni Indonesia, China, dan Italia.
Pendekatan naratif dan kedalaman cerita tersebut mengantarkannya meraih posisi kedua, meski latar belakang utamanya bukan bidang videografi.
Melalui capaian ini, Veldesen berharap makin banyak pemuda Indonesia yang aktif melakukan riset lingkungan, mengeksplorasi bentuk adaptasi lokal, serta berani mengambil peran dalam forum-forum internasional PBB maupun UNESCO.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!