Berkah Tersembunyi di Balik Surutnya Air Waduk Jatigede, Warga Menggali Peluang Ekonomi dengan Bercocok Tanam
📅 Minggu, 06 Sep 2026, 20:35 WIB | Oleh: OpikBagi Amun, mencari tutut bukan kegiatan yang dilakukan setiap hari. Biasanya, aktivitas tersebut dilakukan sekitar satu kali dalam sepekan sekaligus menjadi cara menikmati waktu bersama keluarga.
Hari itu, perjalanan mereka membuahkan hasil cukup banyak. Sekitar 10 kilogram tutut dikumpulkan dari kawasan waduk yang sedang surut.
“Saya tidak tiap hari, hanya satu minggu sekali. Sekalian refreshing. Alhamdulillah, surutnya Waduk Jatigede membawa berkah karena bisa dimanfaatkan untuk mencari tutut,” kata dia.
Tutut mungkin terlihat sederhana, tetapi bagi warga, hasil tersebut memiliki arti. Sebagian dibawa pulang untuk dikonsumsi, sementara kegiatan mencarinya sekaligus menjadi kegiatan keluarga.
Di perairan yang sama, warga lain memanfaatkan perubahan kondisi waduk untuk menangkap ikan. Jaring dan perahu menjadi perlengkapan penting bagi mereka yang menggantungkan sebagian kebutuhan dari hasil tangkapan.
Adi Usep (44) mengatakan hasil tangkapan dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dalam sekali turun, seorang pencari ikan bisa memperoleh sekitar 10 hingga 15 kilogram.
Dalam kondisi tertentu, hasil tangkapan bahkan dapat mencapai sekitar 30 kilogram untuk satu orang. Namun, jumlah tersebut tidak selalu sama karena dipengaruhi kondisi perairan dan musim.
Perahu yang mengikuti irama air
Ketika musim hujan datang, debit air meningkat dan aktivitas warga ikut menyesuaikan. Saat kemarau membuat air menyusut, tepian yang terbuka kembali memberi ruang untuk berbagai aktivitas.
Perubahan itu ternyata tidak hanya dirasakan warga yang mencari ikan. Aktivitas masyarakat di sekitar perairan turut menghidupkan pekerjaan lain yang bergantung pada kebutuhan mereka.
Salah satunya adalah Endan (55), pengrajin perahu yang melihat perubahan permintaan mengikuti kondisi waduk. Ketika air mulai surut, menurut dia, aktivitas masyarakat di perairan biasanya ikut meningkat.
“Dulunya memang sepi. Sekarang mulai ramai. Kalau sudah mulai surut, biasanya aktivitas masyarakat juga mulai ramai,” kata Endan.
Sebagian warga datang untuk memancing, sementara lainnya menggunakan perahu untuk memasang jaring dan menangkap ikan. Kebutuhan tersebut membuat pekerjaan Endan kembali bergerak mengikuti musim.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!