Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Diserbu Produk China Murah! Industri Plastik RI Nyaris Tumbang dari Hulu ke Hilir

📅 Rabu, 02 Sep 2026, 13:59 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Diserbu Produk China Murah! Industri Plastik RI Nyaris Tumbang dari Hulu ke Hilir Doc: istimewa
Ket. Industri petrokimia nasional masih menghadapi tekanan dari tingginya ketergantungan terhadap bahan baku impor. Kondisi ini membuat industri plastik dalam negeri rentan terhadap gejolak harga global sekaligus harus berhadapan dengan masuknya produk impor yang lebih murah, khususnya dari China

JAKARTA - Industri petrokimia nasional masih menghadapi tekanan dari tingginya ketergantungan terhadap bahan baku impor. Kondisi ini membuat industri plastik dalam negeri rentan terhadap gejolak harga global sekaligus harus berhadapan dengan masuknya produk impor yang lebih murah, khususnya dari China.

Anggota Komisi VII DPR RI Bambang Haryo Soekartono menilai persoalan bahan baku menjadi salah satu tantangan utama industri plastik nasional. Menurutnya, penguatan industri dalam negeri perlu dibarengi kebijakan yang mampu menjaga keberlangsungan pelaku usaha lokal di tengah persaingan dengan produk impor.

"Kalau plastik ini kan kita tergerus dengan adanya impor dari Cina ya, ini memang cukup mempersulit industri. Karena industri plastik kita ini kan juga impor bahan bakunya. Jadi agak tantangan juga pada industri plastik kita ini," kata Bambang kepada wartawan, Selasa (1/9/26).

Bambang menyebut ketergantungan bahan baku masih sangat tinggi sehingga industri nasional tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan sumber daya manusia. Pemerintah dinilai perlu menciptakan insentif yang mendorong penggunaan produk dalam negeri, termasuk dengan memberikan keuntungan bagi industri yang menyerap bahan baku plastik lokal.

Lebih lanjut, Industri petrokimia nasional masih menghadapi tekanan meski mulai memasuki fase pemulihan. Pelaku industri melihat peluang perbaikan pada paruh kedua tahun ini, tetapi sejumlah persoalan mulai dari logistik, impor, daya beli hingga pasokan bahan baku masih menjadi tantangan.

Sekretaris Jenderal INAPLAS (Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia) Fajar Budiono mengatakan kondisi pasar masih sulit ditebak akibat perkembangan geopolitik yang terus berubah. Situasi tersebut turut memengaruhi pergerakan harga sejumlah komoditas yang menjadi input bagi industri.

"Memang posisinya itu masih belum menentu ya, dari sisi harga karena naik turun karena memang geopolitik masih begini, sehingga harga minyak naik turunnya itu lebih sering. Tetapi untuk beberapa komoditas, memang saat ini justru fenomenanya yang jadi kendala bukan masalah bahan baku dan harga, tapi yang jadi kendala adalah logistik," ujar Fajar.

Kenaikan biaya pengiriman membuat aktivitas perdagangan ikut tertekan. Kondisi tersebut terjadi bersamaan dengan sikap pasar domestik yang masih menunggu perkembangan permintaan sebelum kembali meningkatkan aktivitas pembelian.

"Logistik, jadi sekarang freight-nya itu mahal-mahal semua, sehingga barang-barang impor pun juga mulai turun. Dari Cina juga sudah mulai agak tinggi harganya. Tetapi pasar lokal kayaknya juga masih wait and see untuk ambil posisi, karena pengirimannya itu tidak terlalu bisa dipastikan, yang kedua juga harganya fluktuasi, sehingga orang cenderung ke wait and see dan memang pasca ajaran baru ini memang tren turun," kata Fajar.

Menurutnya, kondisi tersebut sebenarnya dapat menjadi momentum bagi industri nasional untuk memperkuat pasar domestik. Namun, peluang itu perlu diikuti kebijakan yang mampu menjaga industri dalam negeri dari tekanan produk impor ketika kondisi perdagangan global kembali normal.

"Ya kita berharap nanti di Oktober sudah mulai agak bisa lebih ngangkat lagi, tapi arahnya sih ke positif dengan catatan pemerintah terus mengontrol, jangan sampai industri dalam negeri ini terseok-seok karena tidak mampu bersaing dengan barang-barang impor. Nah ini kebetulan impor lagi susah, nah ini coba dimanfaatkan industri dalam negeri untuk memaksimalkan jualan di lokal," ujarnya.

Persoalan daya beli juga menjadi perhatian karena penurunan permintaan berpengaruh langsung terhadap tingkat utilisasi pabrik. Karakteristik industri petrokimia yang membutuhkan operasi secara kontinu membuat penurunan tingkat produksi menjadi beban yang tidak ringan.

"Kalau kita kan jam kerja kan kita harus running 24 jam non-stop, 30 hari seminggu, dan 365 hari setahun. Jadi kita stopnya kan cuma untuk maintenance tahunan, itu cuma ada allowance satu minggu, untuk maintenance besar itu dua tahun sekali, kira-kira sekitar 20 hari, sehingga kita nggak bisa berhenti. Paling-paling kita cuma menurunkan operating rate saja. Nah operating rate kemarin sempat di bawah 70%, nyaris di bawah 70%. Artinya apa? Artinya kalau di bawah 70% itu sudah, sudah rugi," ungkapnya.

Kondisi tersebut membuat pemulihan daya beli menjadi penting bagi industri. Ia melihat perbaikan dari berbagai sektor ekonomi akan menentukan seberapa cepat permintaan manufaktur kembali meningkat.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Kemenperin akan Gunakan Nilai Tambah untuk Ukur Kinerja Manufaktur
    Keberhasilan Indonesia menempati peringkat ke-12 dunia sekaligus memimpin ...
  • Kemenperin akan Arahkan Industri 2027 pada Hilirisasi dan Industri Hijau
    Prestasi Indonesia yang berhasil naik ke peringkat 12 ...
  • Pria tanpa identitas Tewas Tersengat Listrik saat Curi Kabel LRT
    Wajar sih kalau mati, justru aneh klo tidak ...
  • Meski Melambat, Industri Tetap Ekspansi! Kemenperin: Ini 2 Sektor Paling Moncer
    Meskipun data Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Agustus 2026 ...
  • Kawasan Industri Tak Lagi Kompetitif, Investor Mulai Melirik Vietnam
    Meskipun banyak pabrik di Indonesia kini mulai beralih ...
Advertisement
kai-expo-detail-sidebar
Daerah
Pemeriksaan hewan dan pemba...

Pameran imersif Purwacarita Borobudur

1.5 jam yang lalu | Wahyu AP

Megapolitan
Pameran imersif Purwacarita...
Advertisement
Minta Laporan Penanggulangan Karhutla, Presiden Prabowo Panggil Panglima-Kapolri

Minta Laporan Penanggulangan Karhutla, Presiden Prabowo Panggil Panglima-Kapolri

02 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.