Eufemisme, Menghaluskan Kata Tak Ubah Kenyataan, Batas Halus Sebuah Kebenaran
📅 Selasa, 25 Agu 2026, 20:13 WIB | Oleh: OpikDalam urusan politik, manipulasi kata semacam itu sering kita temukan. Amerika Serikat dan sekutunya melabeli serangan militer ke Iran sebagai pre-emptive strike (serangan pencegahan dini). Istilah itu lebih mudah dipahami jika ditulis "serangan sebelum diserang." Rusia menyebut aksi militernya ke Ukraina sebagai "operasi militer khusus", bukan "perang", apalagi "invasi".
Pakar linguistik William Lutz menyebut gejala ini sebagai doublespeak atau bahasa ganda, yang dirancang secara sadar untuk menyembunyikan kenyataan pahit, mengubah persepsi publik, dan merusak fungsi dasar bahasa sebagai alat komunikasi yang jujur.
Kita tak perlu membaca novel "1984" karya George Orwell untuk mengetahui cara memperhalus kata-kata agar publik memahami fakta A sebagai B.
Kita sudah mahir menggunakan "penyesuaian" untuk harga ketika yang terjadi sebenarnya adalah kenaikan — hanya kenaikan, sebab penurunan harga tidak membuat orang marah.
Sebaiknya Anda baca juga:
Di dunia kerja, kita juga sudah paham bahwa yang dimaksud dengan "restrukturisasi" atau "penataan organisasi" bisa jadi adalah memangkas jumlah karyawan. Kata-kata seperti itu sengaja dipilih agar perusahaan tidak dianggap sedang megap-megap, salah urus, atau mau bangkrut.
Kita sebenarnya tidak keberatan dengan eufemisme karena kenyataan yang diberi nama baru terkadang punya efek yang lebih menenangkan.
Investor di bursa saham barangkali lebih tenang jika IHSG dibilang "terkoreksi". Pelaku pasar barangkali akan merespons secara positif kondisi ekonomi jika disebut hanya mengalami "perlambatan".
Kata "turun", "anjlok", atau "lesu" memang lebih jujur menerangkan kenyataan, tetapi berisiko memicu kepanikan.
Maka, ketika kepala kantor di awal tulisan punya jawaban yang lebih panjang dari kata "tidak", kita harus maklum. Mungkin ia memang sedang menjaga perasaan anak buahnya agar tidak merasa ditolak mentah-mentah.
Namun, kita tak boleh menerima begitu saja, apalagi ikut-ikutan memakainya, jika sebuah kata dikaburkan maknanya demi kepentingan tertentu.
Ketika seseorang tewas "tertemper" kereta, apakah yang dialaminya tidak setragis "tertabrak"? Apakah nasib ratusan karyawan yang "dirumahkan" lebih baik daripada "dipecat"?
Mereka yang menjadi korban bukanlah pihak yang diuntungkan dari eufemisme berlebihan. Pihak yang diuntungkan adalah mereka yang ingin selalu terlihat bersih di mata publik.
Kita tidak perlu menghindari eufemisme, yang perlu kita waspadai adalah jarak antara kata dan fakta. Seberapa jauh kita boleh memperhalus bahasa agar niat menjaga perasaan tidak berubah menjadi upaya untuk menutupi kenyataan? Ant
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!