Eufemisme, Menghaluskan Kata Tak Ubah Kenyataan, Batas Halus Sebuah Kebenaran
📅 Selasa, 25 Agu 2026, 20:13 WIB | Oleh: OpikJAKARTA - Seorang kepala kantor ditanya bawahannya apakah dirinya berencana mengunjungi rumah Fulan, sopir kantor yang baru pulang dirawat karena kecelakaan. Pertama kali ditanya, sang kepala menjawab, "Nanti kita lihat." Kali kedua ia berkata, "Biarkan dia istirahat dulu." Terakhir ia bilang, "Kalian saja ke sana, wakili saya." Semua jawabannya mengarah ke satu hal: tidak.
Di lain waktu dan tempat, ada mobil tertabrak kereta dan penumpangnya tewas. Semua orang mafhum, operator tak bisa disalahkan karena kereta berjalan di jalur khusus yang bebas dari kendaraan lain.
Ada awalan "ter-" dalam kata "tertabrak". Menurut tata bahasa Indonesia, awalan itu menyiratkan perbuatan yang tidak disengaja. Anehnya, kata "tertabrak" masih dianggap belum cukup mewakili insiden kecelakaan kereta, sehingga muncullah istilah lain, "tertemper".
Mobil yang tertabrak kereta bukan mobil Fulan. Saya tidak sedang menerapkan ilmu cocoklogi untuk mengaitkan dua cerita yang berbeda itu — satunya cuma rekaan dan lainnya memang kejadian sesungguhnya.
Lagi pula, bukan soal kecelakaannya yang ingin saya sorot di sini, tetapi cara kita berbahasa. Pilihan kata bisa menentukan apakah maksud pembicara diartikan sama atau berbeda oleh pendengar atau pembaca.
Sebaiknya Anda baca juga:
Kata "tertemper" tidak ada di KBBI. Itu adalah istilah khusus yang dipakai KAI dalam keterangan dan laporan resminya. Artinya sama saja, tertabrak. Saya kurang paham apakah kesamaan bentuknya dengan "tertampar" menunjukkan adanya relasi makna.
Dari cerita soal Fulan dan mobil tertabrak kereta, kita bisa melihat bagaimana manusia dihadapkan pada dilema ketika berbahasa. Kita sulit memilih antara berkata jujur meski pahit atau berbohong dengan manis.
Dalam situasi tertentu, bicara terus terang memang lebih berisiko daripada membual.
Dulu saya senang ketika seorang kawan bilang "gantengan kamu dikit" daripada bos. Padahal mungkin saja maksud dia adalah kegantengan bos lebih banyak daripada saya. Untunglah, bos saya sekarang seorang perempuan.
Dalam berkomunikasi sehari-hari, kita sering mengatakan sesuatu yang tidak harus diartikan secara apa adanya.
Kalau ada teman kantor yang bilang "mari makan", jangan buru-buru percaya kita betulan diajak makan. Kemungkinan besar itu hanya ungkapan kesopanan atau tata krama pergaulan. Bahkan yang benar-benar kita ajak makan pun bisa saja menolak dengan halus. Entah karena memang sudah kenyang, sungkan, atau takut jadi bendahara dadakan.
Memang, demi kenyamanan lawan bicara, tidak semua kata harus kita gunakan secara harfiah. Misalnya ketika mengungkapkan rasa turut berduka atas kematian seseorang, kita hampir tak pernah memakai kata "mati". Secara naluriah, kita akan memilih kata-kata yang menunjukkan rasa hormat, setidaknya "meninggal".
Cara bertutur seperti itu kita kenal sebagai eufemisme, penghalusan bahasa dengan mengganti kata-kata yang dianggap kasar, tabu, atau bisa menyinggung perasaan orang lain. Dalam kadar yang wajar, eufemisme membantu kita menjaga dan mempererat hubungan sosial.
Namun, penghalusan kata bisa menjadi persoalan ketika dipakai untuk kepentingan lain, misalnya untuk menjaga citra atau bahkan lebih parah lagi: mengaburkan fakta.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!