Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Asap Karhutla Makin Pekat, Penderita Asma Diminta Waspadai Serangan Akut

📅 Selasa, 25 Agu 2026, 06:29 WIB | Oleh:
Asap Karhutla Makin Pekat, Penderita Asma Diminta Waspadai Serangan Akut Doc: Antara foto
Ket. Sejumlah pengendara melintas di atas jembatan Siak IV yang dipenuhi kabut asap di Pekanbaru, Riau, Senin (24/8).

JAKARTA - Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, Prof Tjandra Yoga Aditama menyampaikan bahwa penderita penyakit pernapasan seperti asma perlu mengantisipasi serangan asma akut saat menghadapi paparan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

“Konsultasi ke dokter untuk jenis dan dosis obat. Yang perlu diantisipasi tentu adalah serangan asma akut,” kata Prof Tjandra kepada ANTARA di Jakarta, Senin.

Penderita asma saat menghadapi asap karhutla, kata Tjandra, perlu menggunakan obat inhaler controller secara rutin sesuai anjuran dokter.

Kemudian, penderita asma juga perlu memperhatikan penggunaan obat reliever apabila diperlukan, khususnya ketika mengalami gejala seperti sesak napas.

Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu menyampaikan terdapat sejumlah kandungan asap kebakaran hutan yang mengganggu kesehatan, seperti partikel terutama yang berukuran 2,5 mikron yang disebut PM2.5 apabila terhirup memicu terjadinya inflamasi atau peradangan.

Selain itu, kandungan asap kebakaran hutan juga mencakup gas seperti NO2, ozone, dan hidrokarbon aromatik, serta bahan organik lain akibat pembakaran pohon dan tanaman lainnya. Dalam asap karhutla juga dapat membentuk campuran toksik dari kandungan tersebut yang dapat membahayakan kesehatan manusia.

Menurut Tjandra, dampak paparan asap terhadap kesehatan berpotensi menyebabkan berbagai gangguan pernapasan. Gejala yang perlu diwaspadai paparan asap karhutla sama keluhan pernapasan pada umumnya, seperti batuk, bisa berdahak, sesak napas, hingga sakit dada.

“Dampak (paparan asap karhutla) akut seperti terjadi infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA. Dampak lanjutan seperti perburukan infeksi paru, penyakit asma dan penyakit lain seperti dapat menyebabkan peningkatan risiko gangguan kardio respirasi,” ujar Direktur Pascasarjana Universitas YARSI itu.

Selain berdampak langsung terhadap kesehatan, kata Tjandra, terjadinya kebakaran hutan juga akan mengganggu akses penduduk ke pelayanan kesehatan di daerah terdampak.

“Kalau kebakaran hutan yang tinggi intensitasnya, di area yang luas dan berlangsung cukup lama akan berdampak pada transportasi di daerah terdampak, juga kesediaan air bersih, gangguan komunikasi dan sumber daya pula,” imbuh dia.

Lebih lanjut, Tjandra menyampaikan upaya mencegah risiko kesehatan akibat paparan asap karhutla sebaiknya menghindari kebakaran yang sedang aktif apabila aman dilakukan.

“Hindari perjalanan yang tidak terlalu perlu dan gunakanlah masker yang baik, bahkan bila perlu dalam bentuk respirator, kalau harus ke daerah dekat kebakaran hutan,” tutur Tjandra.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Peringkat FIFA Melesat, Timnas Indonesia Dipastikan Lolos Langsung ke Putaran Kedua Kualifikasi Piala Dunia 2030
    Masa depan timnas kita sepertinya makin cerah, sangat ...
  • Kolaborasi Industri dan Akademisi Diperkuat, Seequent Dorong Kapasitas Geosains Indonesia
    How can collaboration between industry and academic institutions ...
  • Mengapa Tak Banyak Mahasiswa Asing yang Mau Kuliah di Indonesia?
    What factors might discourage international students from pursuing ...
  • Sangat Memprihatinkan Rumah Dinas TNI untuk Judol, Pelaku Kini Ditahan
    oknum2 begini ini yg bikin citra loreng jadi ...
  • Bahlil Pasang Rem Industri Nikel, Smelter Setengah Jadi Bisa Dimoratorium
    Langkah moratorium smelter setengah jadi ini memang sudah ...
Advertisement
Saldo Tabungan Masyarakat Menyusut, Fenomena “Mantab” Jadi Sorotan

Saldo Tabungan Masyarakat Menyusut, Fenomena “Mantab” Jadi Sorotan

10 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.