Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Desentralisasi Hanya Berjalan Secara Administratif Tapi Lemah Secara Fiskal

📅 Rabu, 19 Agu 2026, 01:07 WIB | Oleh: Tim Redaksi

Penyebabnya, anggaran daerah sudah habis untuk menambal beban di semester I akibat pemangkasan dana transfer dari pusat.

“Asumsi rata-rata pemerintah daerah kabupaten/kota dan provinsi akan kesulitan cash flow pada Oktober atau November karena anggaran sudah habis untuk menambal beban pada periode semester satu. Untuk bertahan terpaksa harus menggunakan skema utang baik ke pemerintah pusat maupun ke pihak lain seperti BPD,” kata Hafidz.

Kondisi serupa juga terjadi di tingkat desa.

Pemerintah desa diperkirakan hanya bertahan sampai September untuk membiayai operasional harian jika skema efisiensi pusat tidak direlaksasi.

“Dana-dana seperti MBG, Kopdes/ kel, sekolah rakyat, sekolah garuda dan cetak sawah, alsintan, semuanya dikendalikan pusat dengan menggunakan hasil efisiensi atau pemangkasan anggaran daerah. Ini membuat ruang fiskal daerah menyempit, sementara beban daerah tidak berkurang,” kata Hafidz.

Dia pun menilai alasan efisiensi yang dipakai pusat karena cara belanja daerah tidak efisien tidak menyelesaikan persoalan.

“Persoalannya bukan membenahi sistem melainkan membuat skema belanja pusat yang sama tidak efisiennya,” katanya.

Belum lagi di akhir tahun, beban anggaran daerah juga harus disiapkan untuk antisipasi dampak El Nino Godzila seperti potensi kekeringan, kebakaran lahan, hingga bantuan ke petani yang terdampak.

Dampak penyempitan fiskal sudah nyata.

Pemerintah daerah dan desa akhirnya memangkas program prioritas dan hanya fokus mempertahankan operasional serta gaji pegawai.

Akibatnya, perawatan infrastruktur menurun dan insentif program ke masyarakat mengalami penurunan drastis.

“Selama pusat tidak menganggap bahwa otonomi fiskal itu penting, maka otonomi daerah akan ompong,” tutup Hafidz.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Daerah
Jarak Pandang Terbatas, Ban...
Ekonomi
Tekan Kenaikan Harga, Pemka...
Daerah
ASN di Kepulauan Riau Bisa ...
Megapolitan
Tangerang Bergetar Dengar K...
Advertisement
FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

03 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.