Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Banyak Adegan Sadis, The End of Oak Street Bukan Film Petualangan untuk Tontonan Keluarga

📅 Jumat, 14 Agu 2026, 13:43 WIB | Oleh:

Jika dirilis pada masa Jaws, Jurassic Park, atau era kejayaan film petualangan Spielberg, The End of Oak Street mungkin bisa menjadi salah satu karya ikonik yang mendefinisikan generasinya.

Tetapi pada 2026, setelah puluhan tahun penonton disuguhi dinosaurus, monster, time travel, alternate universe, dan berbagai macam film survival, film ini harus bekerja jauh lebih keras untuk terlihat benar-benar orisinal. 

Nostalgia 1980-an menjadi salah satu kekuatan terbesar

Kalau ada satu aspek yang benar-benar berhasil, itu adalah atmosfernya. Mitchell berhasil membawa penonton kembali ke Amerika era 1980-an dengan detail yang cukup meyakinkan. Rumah-rumah suburban, pakaian, perabot, kendaraan, warna interior, hingga benda-benda kecil yang menghiasi kehidupan sehari-hari dibuat dengan perhatian terhadap periode waktunya.

Film ini terasa seperti berada di antara nostalgia E.T., The Goonies, Poltergeist, dan film-film Amblin lainnya.

Detail tersebut bukan hanya tempelan visual. Ia membantu menciptakan kontras antara kehidupan suburban yang tampak aman dengan dunia prasejarah yang tiba-tiba menerobos masuk.

Akting para pemainnya juga cukup solid. Anne Hathaway memberikan performa yang paling menonjol sebagai Denise, sementara Ewan McGregor cukup efektif membawa konflik keluarga yang menjadi dasar cerita. Keduanya membuat keluarga Platt terasa seperti keluarga yang memiliki persoalan sendiri sebelum dinosaurus datang mengacaukan semuanya.

Masalah sebenarnya justru ada pada pesan film. Ironisnya, film ini tampaknya ingin berbicara lebih banyak tentang keluarga daripada dinosaurus.

Premis resminya sendiri menempatkan ikatan keluarga sebagai kunci untuk bertahan hidup.

David Robert Mitchell seperti ingin mengatakan bahwa ketika dunia runtuh dan semua hal yang selama ini dianggap normal menghilang, keluarga menjadi satu-satunya tempat untuk kembali.

Namun pesan tersebut tidak selalu sampai dengan kuat. Film terlalu sering terseret oleh adegan kejar-kejaran, serangan dinosaurus, dan rangkaian survival sehingga perkembangan hubungan antarkarakter terkadang terasa berada di posisi kedua.

Penonton akhirnya lebih sibuk bertanya, "Bagaimana mereka akan lolos dari T-Rex berikutnya?", daripada benar-benar merasakan perjalanan emosional keluarga Platt.

Ini juga yang membuat beberapa ulasan menilai kedalaman emosional dan pengembangan karakternya belum sepenuhnya sebanding dengan ambisi film tersebut.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Daerah
ASN di Kepulauan Riau Bisa ...
Daerah
Perum Bulog Belitung Pastik...

Tangerang Bergetar Dengar Konser Symphony of Giving

1.5 jam yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Megapolitan
Tangerang Bergetar Dengar K...
Advertisement
FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

03 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.