Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Banyak Adegan Sadis, The End of Oak Street Bukan Film Petualangan untuk Tontonan Keluarga

📅 Jumat, 14 Agu 2026, 13:43 WIB | Oleh:
Banyak Adegan Sadis, The End of Oak Street Bukan Film Petualangan untuk Tontonan Keluarga Doc: Istimewa
Ket. PG-13 bukan berarti film ini cocok untuk anak-anak. Justru label tersebut menjadi alasan orang tua perlu berhati-hati sebelum mengajak anak menontonnya.

Bebas Spoiler: 

Ada satu hal yang cukup mengejutkan dari The End of Oak Street: film ini secara resmi mendapatkan rating PG-13, tetapi pengalaman menontonnya terasa jauh lebih keras daripada bayangan yang biasanya muncul dari sebuah film petualangan keluarga dengan dinosaurus.

Disutradarai dan ditulis oleh David Robert Mitchell, film ini dibintangi Anne Hathaway, Ewan McGregor, Maisy Stella, dan Christian Convery. Sementara J.J. Abrams berada di jajaran produser melalui Bad Robot. Ceritanya mengikuti keluarga Platt yang tiba-tiba harus bertahan hidup ketika lingkungan permukiman mereka di era 1980-an mengalami fenomena kosmik dan terlempar ke sebuah dunia yang dihuni makhluk-makhluk prasejarah.

Dan jangan tertipu oleh premisnya yang terdengar seperti film petualangan keluarga. Film ini bukan tontonan keluarga dalam pengertian film dinosaurus yang aman untuk anak-anak.

Ada sejumlah adegan ketika manusia menjadi mangsa dinosaurus dengan cara yang cukup brutal. Film tidak selalu memperlihatkan seluruh proses pembunuhan secara terus-menerus, tetapi luka, darah, serangan fisik, dan konsekuensi ketika manusia diterkam makhluk purba ditampilkan cukup jelas. Rating resminya sendiri berbunyi PG-13 karena “some strong violent content, bloody images, some strong language and suggestive material.”

Artinya, rating tersebut sebenarnya bukan berarti film ini bebas dari kekerasan. Justru MPA secara eksplisit mengakui adanya kekerasan kuat dan gambar berdarah.

Bagaimana film sebrutal ini bisa lolos PG-13?

Ini yang menarik. Rating PG-13 di Amerika bukan batas yang otomatis melarang kekerasan berdarah. Film masih bisa mendapatkan PG-13 selama tingkat, frekuensi, konteks, dan cara visualisasi kekerasannya masih dianggap berada dalam batas yang dapat diterima untuk kategori tersebut.

Dalam kasus The End of Oak Street, tampaknya film berada di wilayah abu-abu itu. Adegan manusia dimangsa memang brutal, tetapi film tidak menjadikan gore sebagai tujuan utama. Beberapa serangan berlangsung sangat cepat atau dipotong sebelum seluruh proses pemangsaan diperlihatkan. Bahkan laporan penonton menyebut terdapat adegan dengan darah dan luka berat, tetapi film tidak selalu memperlihatkan momen pembunuhan secara penuh.

Jadi, PG-13 bukan berarti film ini cocok untuk anak-anak. Justru label tersebut menjadi alasan orang tua perlu berhati-hati sebelum mengajak anak menontonnya.

Dan inilah salah satu kekurangan dari cara film ini dipasarkan. Dengan tampilan poster, premis keluarga, dinosaurus, serta nuansa nostalgia era 1980-an, penonton bisa saja mengira ini adalah petualangan dinosaurus yang bisa dinikmati seluruh keluarga.

Padahal isinya jauh lebih keras. Tapi memang justru kekejamannya membuat dinosaurus terasa lebih realistis. 

Ironisnya, aspek yang membuat film ini tidak cocok untuk anak-anak justru menjadi salah satu kekuatannya.

Dinosaurus dalam The End of Oak Street tidak diperlakukan seperti monster yang sengaja diciptakan untuk menjadi karakter antagonis. Mereka adalah predator.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Daerah
ASN di Kepulauan Riau Bisa ...
Daerah
Perum Bulog Belitung Pastik...

Tangerang Bergetar Dengar Konser Symphony of Giving

1.5 jam yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Megapolitan
Tangerang Bergetar Dengar K...
Advertisement
FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

03 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.