Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Ekonomi RI Tumbuh, tapi Daya Beli Kelas Menengah Mulai Tertekan

3 Selasa, 11 Agu 2026, 05:00 WIB | Oleh: Tim Penulis

Selain sektor jasa, tiga kelompok industri yang memberikan kontribusi cukup besar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional adalah makanan dan minuman, kimia dan farmasi, serta logam dan elektronika.

Industri makanan dan minuman tumbuh 6,5 persen, sedangkan industri logam dan elektronik tumbuh 8 persen. Pertumbuhan industri makanan dan minuman dinilai masih berkaitan erat dengan konsumsi domestik dan dukungan berbagai program pemerintah.

Namun, sektor kimia dan farmasi menghadapi tekanan akibat konflik Amerika Serikat, Iran, dan Israel yang berdampak terhadap kenaikan harga serta gangguan pasokan bahan baku. Sektor tersebut hanya tumbuh 5 persen pada kuartal II 2026.

Sektor perdagangan besar dan eceran juga menjadi salah satu penopang utama dengan pertumbuhan 6,4 persen. Kinerja tersebut menunjukkan masih kuatnya peran konsumsi domestik dan aktivitas perdagangan dalam menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.

Sementara itu, sektor listrik dan gas mencatat pertumbuhan tinggi sebesar 10,8 persen pada kuartal II 2026. Namun, angka tersebut perlu dilihat dengan mempertimbangkan efek basis dari periode sebelumnya, ketika pertumbuhan listrik pada kuartal I 2025 terdorong oleh program diskon tarif listrik.

“Kalau kita lihat secara first half itu hanya tumbuh 4,83 persen, ini di bawah dari pertumbuhan ekonomi nasional yang mengindikasikan bahwa pertumbuhan sektor-sektor yang tumbuh itu terlalu banyak memakan energi,” ujar Adjie.

Di sisi lain, sektor pertambangan mengalami kontraksi 1,6 persen, antara lain akibat penyesuaian Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) serta penurunan produksi Freeport.

Sektor manufaktur juga tumbuh lebih lambat dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional, meskipun sejumlah subsektornya masih mencatat kinerja positif.

Dengan demikian, struktur pertumbuhan ekonomi pada kuartal II 2026 menunjukkan semakin besarnya peran sektor jasa, perdagangan, dan konsumsi domestik. Namun, di balik ketahanan tersebut, meningkatnya kredit bermasalah, tekanan terhadap kelompok aspiring middle income, serta masih lemahnya sejumlah sektor produktif menunjukkan bahwa kualitas dan keberlanjutan pertumbuhan ekonomi tetap menjadi tantangan.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Kapasitas Produksi Menganggur, Industri Didesak Bangkit
    Berita yang sangat melegakan bagi kita yang bergerak ...
  • Jakarta Timur Bersiap Jadi Magnet Investasi Baru, Kawasan 370 Hektare Ini Dilirik
    Tidak akan sukses. Catat ini. Ormas sm warlok ...
  • Industri Makanan dan Minuman Tumbuh 7,04 Persen, KRISTA InterFOOD 2026 Perluas Peluang Bisnis
    Pencapaian kinerja industri mamin yang impresif ini tentu ...
  • Ekspor Tembus 4,85 Miliar Dolar AS, UGM Dorong Teknologi Hijau Industri Kulit
    Ekspor kulit tembus 4,85 miliar dolar AS, UGM ...
  • GrabMart Catat Lonjakan Pesanan Dini Hari, Strategi Pemasaran Brand Perlu Berubah
    Banyak sekarang pekerja kantoran sampe rumah malam, lalu ...
Luar Negeri
Partai Komunis Tiongkok aka...
Megapolitan
Pencatutan Nama Pejabat Jad...
Megapolitan
Bansos bagi 2.200 Warga Tan...
Advertisement
Polemik Kadar Emas, Konsumen Soroti Perbedaan Hasil Pengujian

Polemik Kadar Emas, Konsumen Soroti Perbedaan Hasil Pengujian

02 Nov 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.