Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Kejar Target PLTS 100 GW, Pemerintah Diminta Perkuat Strategi

📅 Senin, 10 Agu 2026, 03:00 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Kejar Target PLTS 100 GW, Pemerintah Diminta Perkuat Strategi Doc: ANTARA/Putra M. Akbar
Ket. Pekerja memeriksa Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) atap di Rusunawa Cipta Griya Kedaung, Kota Tangerang, Banten, beberapa waktu lalu.

Jakarta – Pemerintah diminta memperkuat strategi untuk merealisasikan target pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) 100 gigawatt (GW) pada 2030. Institute for Essential Services Reform (IESR) menilai target tersebut membutuhkan strategi multijalur, mulai dari PLTS skala besar dan PLTS atap hingga dedieselisasi, listrik desa, serta penggantian pembangkit fosil secara bertahap. Selain kapasitas, pemerintah juga perlu memastikan kesiapan sistem kelistrikan, pembiayaan, sumber daya manusia, rantai pasok, dan kualitas proyek.

Dikutip dari Antara, Chief Executive Officer IESR Fabby Tumiwa mengatakan pemerintah perlu menggabungkan berbagai skema pengembangan PLTS agar pencapaian target tidak bergantung pada satu jenis proyek maupun sumber pembiayaan.

"Strategi multijalur harus diterapkan, agar program ini dapat terlaksana efektif, menjawab kebutuhan yang beragam, dan tidak bergantung pada satu skema proyek atau satu sumber pembiayaan," kata Fabby di Jakarta, Minggu (9/8).

Menurut dia, pencapaian target PLTS 100 GW membutuhkan kombinasi proyek skala besar, PLTS atap, program dedieselisasi, elektrifikasi desa, dukungan terhadap kegiatan ekonomi produktif, hingga penggantian pembangkit berbahan bakar fosil secara bertahap.

Fabby menilai pembangunan PLTS tidak dapat hanya mengandalkan proyek berskala besar yang tercantum dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL). Ia menyarankan pemerintah mempercepat pengembangan PLTS atap untuk rumah tangga, bangunan komersial, dan sektor industri.

"Selain itu perluasan program dedieselisasi melalui PLTS dan baterai, percepatan proyek PLTS skala besar dalam RUPTL, pemanfaatan PLTS sebagai penyuplai listrik fasilitas pendukung PLTU dan lain sebagainya," ujarnya.

IESR juga memberikan masukan agar pemerintah mengevaluasi bahkan membatalkan rencana pembangunan PLTU dan PLTG baru yang belum memasuki tahap konstruksi. Langkah tersebut dinilai dapat membuka ruang bagi peningkatan pemanfaatan energi surya.

Di sisi lain, faktor kapasitas pembangkit fosil yang telah beroperasi juga perlu diturunkan secara bertahap dan digantikan dengan PLTS serta sistem penyimpanan energi berbasis baterai.

Dengan pendekatan tersebut, Fabby memperkirakan kapasitas kumulatif PLTS secara teknis dapat mencapai sekitar 80 GW pada 2030. Namun, upaya tambahan masih diperlukan, khususnya melalui pengembangan PLTS terdistribusi yang melibatkan berbagai pihak, agar target 100 GW dapat tercapai.

"Di samping itu, implementasi tetap harus memperhatikan kesiapan sistem dan sumber daya manusia, perkembangan rantai pasok industri, keberlanjutan pembiayaan, dan kualitas proyek," katanya.

Potensi di Tol Trans-Jawa

Di sisi lain, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tengah mengkaji potensi pengembangan PLTS di sepanjang jalan tol Trans-Jawa sebagai bagian dari upaya mendukung program PLTS 100 GW.

Plt. Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Tri Winarno mengatakan kajian tersebut akan dimulai pada 2026 dengan mengacu pada keberhasilan pemasangan PLTS di sekitar Tol Bali Mandara.

"Nanti pengembangan ke depan, kemarin kami minta untuk kaji kalau sepanjang tol Jawa itu kira-kira dapat berapa (kapasitas PLTS) sih," ujar Tri saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Kamis.

Menurut Tri, salah satu aspek yang perlu diperhatikan adalah kondisi angin yang relatif kencang di sejumlah ruas jalan tol. Faktor tersebut akan memengaruhi desain, peletakan, dan posisi panel surya yang akan dipasang.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Gunung Anak Krakatau Terus Erupsi, Jakarta Kena Sebaran Abu Vulkanik
    Sangat mungkin terjadi erupsi yg lebih besar, kemarin ...
  • Ditentang AS, PBB Adopsi Resolusi 'Koreksi Peta Dunia', Benua Afrika Ternyata 14 Kali Lebih Besar!
    Indonesia lebih besar dari Eropa. Jarak antara Sabang ...
  • Sapi Aceh Dibawa ke Pulau Terluar, Aceh Besar Bidik Ketahanan Pangan
    Kenapa harus ke pulau aceh pengembangan plasma nutfah ...
  • Aturan Insentif Motor Listrik Masih Digodok, Pemerintah Siapkan Rancangan Perpres
    Ulasan yang sangat komprehensif mengenai urgensi payung hukum ...
  • Magang Nasional 2026 Tahap II Dibuka, Anak Muda Berebut Kesempatan Masuk Industri
    Kesenjangan kompetensi yang menjadi latar belakang program Magang ...
Daerah
Kebakaran Gunung Semeru Akh...
Advertisement
Shin Tae-yong Jumawa Persija Hanya Pakai Kekuatan 50% saat Kalahkan Borneo, Awas Kesandung Coach!

Shin Tae-yong Jumawa Persija Hanya Pakai Kekuatan 50% saat Kalahkan Borneo, Awas Kesandung Coach!

06 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.