Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Mega Buana Teknologi Gandeng BlueCat Networks, Perkuat Pengelolaan Infrastruktur Digital Enterprise

📅 Senin, 03 Agu 2026, 20:02 WIB | Oleh:
Mega Buana Teknologi Gandeng BlueCat Networks, Perkuat Pengelolaan Infrastruktur Digital Enterprise Doc: CTI Group
Ket. Seremoni kemitraan CTI Group dengan BlueCat Networks Mega Buana Teknologi. Kerja sama ini untuk memperkuat pengelolaan jaringan enterprise melalui solusi Unified DDI di Indonesia.

JAKARTA — PT Mega Buana Teknologi (MBT), perusahaan value-added distributor (VAD) teknologi informasi sekaligus anak perusahaan CTI Group, menjalin kemitraan strategis dengan BlueCat Networks untuk memperkuat pengelolaan infrastruktur jaringan perusahaan di Indonesia.

BlueCat Networks merupakan perusahaan teknologi global yang menyediakan solusi DNS (Domain Name System), DHCP (Dynamic Host Configuration Protocol), dan IP Address Management (IPAM) bagi perusahaan atau enterprise.

Melalui kemitraan tersebut, MBT dan BlueCat Networks akan membantu perusahaan di Indonesia meningkatkan visibilitas serta kontrol terhadap infrastruktur jaringan. Langkah ini dinilai semakin relevan seiring meningkatnya penggunaan cloud, kecerdasan artifisial (AI), serta otomatisasi dalam operasional bisnis.

Ketergantungan perusahaan terhadap infrastruktur digital membuat jaringan tidak lagi sekadar menjadi infrastruktur pendukung. Jaringan kini menjadi bagian penting dari operasional bisnis, mulai dari layanan pelanggan, transaksi digital, komunikasi internal, hingga pengoperasian sistem berbasis cloud.

Kompleksitas tersebut juga meningkat ketika perusahaan mengoperasikan lingkungan hybrid cloud dan multi-cloud, yang menggabungkan infrastruktur on-premise dengan berbagai layanan cloud.

Kompleksitas Jaringan Jadi Tantangan Enterprise

Perkembangan teknologi digital membuat perusahaan harus mengelola semakin banyak perangkat, aplikasi, layanan cloud, serta koneksi jaringan secara bersamaan.

Di sisi lain, gangguan terhadap jaringan dapat memberikan dampak langsung terhadap produktivitas dan pengalaman pelanggan. Karena itu, kemampuan untuk melihat kondisi jaringan secara menyeluruh dan mengidentifikasi masalah dengan cepat menjadi semakin penting.

Laporan PwC Global Digital Trust Insights yang dikutip dalam materi kemitraan tersebut menunjukkan ancaman berbasis cloud masih menjadi salah satu perhatian organisasi yang menggunakan lingkungan hybrid dan multi-cloud. Di kawasan Asia Pasifik, sebanyak 37 persen organisasi disebut belum sepenuhnya siap menghadapi risiko tersebut.

Kondisi itu memperlihatkan kebutuhan perusahaan terhadap infrastruktur jaringan yang memiliki visibilitas, kontrol, serta ketahanan yang lebih baik.

Kebutuhan tersebut menjadi semakin penting bagi sektor yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap sistem digital, seperti jasa keuangan, pemerintahan, ritel, e-commerce, dan manufaktur.

Di sektor keuangan, misalnya, stabilitas dan keamanan jaringan berhubungan langsung dengan kelancaran transaksi digital. Institusi pemerintahan membutuhkan jaringan yang andal untuk menopang layanan publik dan berbagai sistem yang bersifat kritis.

Sementara itu, perusahaan ritel dan e-commerce menghadapi kebutuhan kapasitas jaringan yang tinggi, terutama ketika terjadi lonjakan permintaan. Pada industri manufaktur, integrasi antara operational technology (OT) dan information technology (IT) juga membuat kebutuhan terhadap visibilitas dan pengelolaan jaringan semakin kompleks.

Ancaman Siber Dorong Kebutuhan Infrastruktur Resilien

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Industri Bioetanol Indonesia Mau Digenjot, Mentan Bidik Investasi BUMN dan Swasta
    Potensi penghematan devisa negara hingga mencapai Rp500 triliun ...
  • Pertamina dan Jababeka Berkolaborasi Menuju Kawasan Hijau dan Nol Emisi
    Melihat tren positif pemasangan infrastruktur panel surya yang ...
  • Kemenperin Pacu Industri Halal Tembus Pasar Global Lewat Halal Indo 2026
    Langkah mendorong penyerapan 60 persen vendor lokal di ...
  • Bukan Sekadar Ekspor, Industri Pangan Indonesia Kejar Posisi di Rantai Nilai Global
    Ulasan yang sangat komprehensif mengenai posisi manufaktur Indonesia ...
  • Industri Besar di Kaltim Didorong Wajib Serap 60 Persen Vendor dan UMKM Lokal.
    Langkah Komisi VII DPR RI dalam mendorong regulasi ...
Advertisement
Art Jakarta Detail Sidebar
Advertisement
Busyett…Angka Insentif Pajak Mencapai Rp576 Triliun, Tidak Mubazir?

Busyett…Angka Insentif Pajak Mencapai Rp576 Triliun, Tidak Mubazir?

23 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.