RI-Turki Tancap Gas Bangun Kemitraan Ketenagakerjaan, SDM Jadi Fokus Utama
📅 Jumat, 24 Jul 2026, 23:25 WIB | Oleh: Tim PenulisJAKARTA – Kolaborasi di bidang ketenagakerjaan menjadi kunci untuk menciptakan tenaga kerja yang lebih kompeten dan adaptif terhadap perubahan kebutuhan industri.
Sinergi antara pemerintah, dunia usaha, lembaga pendidikan, dan pelatihan vokasi dapat mempersempit kesenjangan keterampilan (skill gap), memperluas akses kesempatan kerja, serta meningkatkan produktivitas nasional.
Di tengah transformasi digital dan perkembangan teknologi, kerja sama lintas sektor juga diperlukan agar pengembangan kompetensi tenaga kerja berjalan selaras dengan kebutuhan pasar, sehingga mampu memperkuat daya saing ekonomi dan mendorong pertumbuhan yang inklusif.
Pemerintah Indonesia dan Turki resmi memperkuat kolaborasi di bidang ketenagakerjaan melalui kesepakatan Rencana Aksi Bersama (Joint Action Plan) 2026–2027.
Kesepakatan strategis ini dicapai dalam pertemuan The First Joint Working Commission (JWC) yang dihadiri langsung oleh Menteri Ketenagakerjaan RI Yassierli dan Menteri Perburuhan dan Jaminan Sosial Turki Vedat Işıkhan, di Jakarta, Jumat (24/7).
Sebaiknya Anda baca juga:
“Saya meyakini bahwa kolaborasi yang semakin erat antara Indonesia dan Turki tidak hanya memberikan manfaat bagi kedua negara, tetapi juga menjadi kontribusi nyata dalam menghadirkan solusi atas berbagai tantangan ketenagakerjaan global, demi membangun pasar kerja yang lebih inklusif, adaptif, dan berorientasi pada kesejahteraan masyarakat,” ujar Menaker Yassierli.
Adapun penyelenggaraan JWC pertama ini ditandai dengan penandatanganan Protocol of the First Joint Working Commission.
Dokumen ini Yassierli sebut menjadi akselerator dan bentuk konkret implementasi dari Nota Kesepahaman (MoU) tentang Kerja Sama di Bidang Ketenagakerjaan yang sebelumnya telah ditandatangani kedua negara pada 22 November 2023 di Baku, Azerbaijan.
Sementara itu, ruang lingkup Joint Action Plan 2026–2027 ini mencakup berbagai agenda strategis, seperti pengembangan kebijakan pasar kerja, digitalisasi layanan ketenagakerjaan, penguatan keselamatan dan kesehatan kerja (K3), hingga pengembangan proyek kerja sama internasional.
“Keberhasilan implementasi setiap kegiatan akan menjadi indikator nyata dari keberhasilan kerja sama bilateral kita, sekaligus memberikan dampak konkret bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia, penguatan kelembagaan, serta kesejahteraan pekerja di kedua negara,” ujar Menaker.
Selain itu, salah satu poin sorotan utama dalam pertemuan bilateral ini adalah Indonesia berkeinginan untuk mempelajari Model Factory dari Turki sebagai strategi transformasi Balai Pelatihan Vokasi di Tanah Air.
“Indonesia melihat pengalaman sukses Turki dalam pengembangan Model Factory sebagai peluang emas untuk mengakselerasi transformasi balai pelatihan vokasi yang kita miliki,” kata Menaker.
Di Turki, lanjutnya, Model Factory tidak sekadar menjadi tempat pelatihan kerja biasa, melainkan bertransformasi menjadi pusat konsultasi modern bagi Usaha Kecil dan Menengah (UKM) dalam menerapkan prinsip keunggulan operasional (lean production).
“Kami ingin memperluas ruang lingkup kerja sama ini, khususnya dalam mentransfer prinsip dan metode Model Factory agar balai pelatihan kita dapat berperan ganda: mencetak SDM unggul sekaligus mendampingi UKM lokal tumbuh lebih efisien,” kata Yassierli.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!