Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Tanpa Pembenahan Keamanan Berinvestasi, RI Bakal Kalah Bersaing di ASEAN

📅 Senin, 21 Sep 2026, 03:10 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Tanpa Pembenahan Keamanan Berinvestasi, RI Bakal Kalah Bersaing di ASEAN Doc: istimewa
Ket. Iklim Investasi - Tantangannya adalah bagaimana membuat investor punya alasan untuk memilih Indonesia ketika mereka juga punya pilihan Vietnam, Malaysia atau Singapura.

JAKARTA - Indonesia dinilai menghadapi tantangan serius dalam hal efektivitas eksekusi kebijakan di tengah lonjakan investasi yang masuk. Hal itu disampaikan Dosen Magister Ekonomi Terapan Unika Atma Jaya, YB. Suhartoko, merespons laporan terbaru yang memproyeksikan pertumbuhan ekonomi enam negara terbesar Asia Tenggara rata-rata 4,8 persen per tahun antara 2026 hingga 2035.

Dari catatan pertumbuhan ekonomi tersebut, Vietnam diperkirakan tetap memimpin sebagai pertumbuhan tertinggi di kawasan. Sedangkan, Thailand diproyeksikan mengalami tingkat pertumbuhan yang lebih lambat dibandingkan negara anggota lainnya.

Menurut Suhartoko, Singapura dinilai sebagai ekonomi paling tangguh berkat sektor keuangan yang maju dan stabil. Sementara Indonesia, Filipina, dan Thailand memiliki potensi risiko yang lebih besar dalam skenario terburuk global.

Jika Indonesia ingin bersaing dengan Vietnam yang ekonominya melesat, maka ada tiga pekerjaan rumah besar yang harus dibenahi.

“Tantangan bagi Indonesia melakukan pembenahan perizinan, penyediaan infrastruktur yang terintegrasi serta keamanan investasi. Jika tidak dilakukan investasi bisa jadi tidak akan terealisasi,” tegas Suhartoko.

Laporan tersebut menjadi alarm bagi Indonesia yang meski memiliki pasar besar dan bonus demografi, tetap harus berbenah agar investasi yang sudah dijanjikan tidak hanya di atas kertas, namun benar-benar terealisasi di lapangan.

Berdasarkan laporan regional Southeast Asia Outlook 2026-2035, Indonesia menghadapi tantangan dalam hal efisiensi kelembagaan dan konsistensi eksekusi kebijakan dibandingkan negara tetangga.

Selain itu beban subsidi dan kebergantungan pada konsumsi rumah tangga membuat ruang gerak fiskal semakin terbatas dalam memacu investasi jangka panjang.

Sebelumnya pengamat ekonomi Universitas Wijaya Kusuma (UWKS) Surabaya, Ermatry Hariani, mengatakan, proyeksi tersebut menunjukkan persaingan antarnegara kawasan dalam merebut investasi asing akan semakin ketat.

Indonesia memiliki pasar domestik besar dan sumber daya alam yang kuat, tetapi sejumlah negara tetangga memiliki keunggulan yang membuat investor lebih mudah masuk dan memperluas bisnis.

“Investor itu bukan cuma mencari pasar besar. Mereka juga mencari tempat yang prosesnya jelas, infrastrukturnya siap, energinya aman, dan urusan bisnisnya bisa diprediksi. Di bagian ini, beberapa negara tetangga memang punya keunggulan,” ujarnya.

Indonesia sebenarnya tidak kekurangan modal untuk bersaing. Realisasi investasi Indonesia sepanjang 2025 mencapai 1.931 triliun rupiah atau 101 persen dari target pemerintah, sementara investasi hilirisasi mencapai 584 triliun rupiah.

“Jadi persoalannya bukan Indonesia tidak menarik bagi investor. Investasi tetap masuk dan angkanya besar. Tantangannya adalah bagaimana membuat investor punya alasan untuk memilih Indonesia ketika mereka juga punya pilihan Vietnam, Malaysia atau Singapura,” kata Ermatry.

Menurutnya, Indonesia perlu memperkuat faktor yang menjadi pembeda, bukan hanya mengandalkan besarnya pasar dan sumber daya alam. Kepastian regulasi, kecepatan perizinan, kualitas infrastruktur, ketersediaan energi, kesiapan tenaga kerja, serta kemampuan mengembangkan industri berteknologi tinggi menjadi faktor penting.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Peringkat FIFA Melesat, Timnas Indonesia Dipastikan Lolos Langsung ke Putaran Kedua Kualifikasi Piala Dunia 2030
    Masa depan timnas kita sepertinya makin cerah, sangat ...
  • Kolaborasi Industri dan Akademisi Diperkuat, Seequent Dorong Kapasitas Geosains Indonesia
    How can collaboration between industry and academic institutions ...
  • Mengapa Tak Banyak Mahasiswa Asing yang Mau Kuliah di Indonesia?
    What factors might discourage international students from pursuing ...
  • Sangat Memprihatinkan Rumah Dinas TNI untuk Judol, Pelaku Kini Ditahan
    oknum2 begini ini yg bikin citra loreng jadi ...
  • Bahlil Pasang Rem Industri Nikel, Smelter Setengah Jadi Bisa Dimoratorium
    Langkah moratorium smelter setengah jadi ini memang sudah ...
Advertisement
Saldo Tabungan Masyarakat Menyusut, Fenomena “Mantab” Jadi Sorotan

Saldo Tabungan Masyarakat Menyusut, Fenomena “Mantab” Jadi Sorotan

10 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.