Peningkatan Belanja Negara Belum Mendorong Sektor Riil
📅 Senin, 21 Sep 2026, 03:15 WIB | Oleh: Tim Redaksi» Investasi baru tetap membutuhkan kepastian permintaan, margin yang memadai, dan regulasi yang konsisten.
JAKARTA - Upaya Pemerintah meningkatkan volume belanja negara belum berdampak signifikan terhadap akselerasi sektor riil atau dunia usaha. Hal tersebut menyebabkan pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak meningkat signifikan.
Peneliti Ekonomi Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendi Manilet mengatakan peningkatan belanja pemerintah yang signifikan belum mendorong sektor riil dan menjadi mesin pertumbuhan ekonomi.
“Persoalannya bukan karena belanja dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) kurang belanja. Sampai Agustus, belanja negara sudah tumbuh 17,1 persen dan belanja pemerintah pusat hampir 30 persen. Defisit juga masih terkendali di 0,93 persen PDB. Artinya, dorongan fiskal sudah masuk ke perekonomian, tetapi yang perlu dilihat sekarang adalah seberapa jauh dorongan itu diteruskan menjadi produksi dan investasi swasta,” paparnya.
Transmisi fiskal jelasnya memang terlihat namun belum cukup kuat. Konsumsi pemerintah tumbuh 15,97 persen dan memberi kontribusi sekitar 1,07 poin persentase terhadap pertumbuhan. Namun pertumbuhan ekonomi melambat dari 5,61 persen di kuartal I menjadi 5,29 persen di kuartal II.
Industri pengolahan pun hanya tumbuh 4,52 persen dan konsumsi rumah tangga melambat menjadi 5,06 persen serta PMI Manufaktur Agustus kembali di bawah 50 atau kontraksi.
“Artinya, fiskal mampu menopang permintaan, tetapi dorongannya belum cukup untuk membuat kapasitas produksi ikut meningkat,” katanya.
Komposisi Belanja
Lebih lanjut dijelaskan lambatnya transmisi fiskal itu disebabkan komposisi belanja. Sebagian belanja seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), perlindungan sosial, gaji, dan belanja pemerintah memang cepat masuk ke konsumsi sehingga penting untuk menjaga daya beli. Namun efeknya terhadap kapasitas produksi lebih terbatas dibanding belanja yang menurunkan biaya produksi.
“Di sinilah perbedaan antara sekadar meningkatkan aktivitas ekonomi dan menciptakan efek pengganda yang lebih panjang,” katanya.
Dia menilai bottleneck saat ini bukan kekurangan likuiditas. Kredit investasi tumbuh 25,13 persen yang berarti pembiayaan tersedia. Namun ketersediaan pembiayaan tidak otomatis membuat pengusaha berekspansi.
“Investasi baru tetap membutuhkan kepastian permintaan, margin yang memadai, dan regulasi yang konsisten. Karena itu, bottleneck sekarang lebih banyak berada pada lemahnya insentif untuk berinvestasi daripada kekurangan likuiditas,” jelasnya.
Ia juga menyoroti ketimpangan sebaran fiskal. Transfer ke daerah turun yang turun 11,8 persen menyebabkan ekspansi belanja lebih terkonsentrasi di pusat. Padahal aktivitas ekonomi daerah sangat bergantung pada belanja pemerintah daerah, terutama bagi kontraktor, perdagangan, dan jasa lokal.
“Ketika pusat meningkatkan belanja tetapi sirkulasi fiskal di daerah melemah, efek penggandanya secara keseluruhan ikut terbatas,” katanya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!