BI: AI Bisa Jadi Mesin Baru Pendongkrak Produktivitas Bank Sentral dan Industri Keuangan
📅 Jumat, 24 Jul 2026, 21:05 WIB | Oleh: Tim PenulisJAKARTA – Pemanfaatan kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI) di bank sentral dan sektor keuangan berpotensi meningkatkan efisiensi operasional, kualitas pengambilan kebijakan, serta kemampuan mendeteksi risiko secara lebih cepat dan akurat.
AI dapat dimanfaatkan untuk menganalisis data ekonomi dalam jumlah besar, memperkuat pengawasan sistem keuangan, mendeteksi transaksi mencurigakan, hingga meningkatkan layanan kepada nasabah.
Namun, penerapannya juga menuntut tata kelola yang kuat, perlindungan data, mitigasi risiko siber, dan regulasi yang adaptif agar inovasi digital berjalan seiring dengan terjaganya stabilitas sistem keuangan dan kepercayaan publik.
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyampaikan bahwa kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI) berpotensi meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan inovasi dalam pelaksanaan tugas bank sentral maupun sektor keuangan dalam jangka menengah dan panjang.
Menurut Perry, implementasi AI di Bank Indonesia dilakukan secara bertahap melalui penguatan kualitas data dan metadata, tata kelola, kapabilitas sumber daya manusia, serta pengembangan berbagai inovasi, dengan tetap menjaga kedaulatan data dan infrastruktur strategis.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Keberhasilan adopsi AI tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada sinergi antara manusia, proses, dan tata kelola yang baik,” kata Perry dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Jumat (24/7).
Adapun Perry menghadiri Executive Meeting of East Asia-Pacific Central Banks (EMEAP) ke-31 Governors' Meeting yang diselenggarakan pada Kamis (23/7) dan Jumat di Singapura.
Melalui pertemuan tersebut, para Gubernur Bank Sentral kawasan Asia Pasifik sepakat memperkuat tata kelola adopsi AI di bank sentral.
Sebaiknya Anda baca juga:
Forum membahas peluang pemanfaatan AI untuk meningkatkan kinerja bank sentral, sekaligus potensi risikonya terhadap perekonomian dan stabilitas sistem keuangan.
Karena itu, para Gubernur menegaskan pentingnya kesigapan bank sentral dalam merespons dinamika global melalui bauran kebijakan yang adaptif, serta memastikan adopsi AI dilakukan secara bertanggung jawab melalui penguatan tata kelola, pengawasan, dan mitigasi risiko.
Forum juga menyoroti bahwa adopsi AI di bank sentral dan sektor keuangan perlu diimbangi dengan penguatan tata kelola dan kerangka pengawasan.
Langkah tersebut dipandang penting untuk mengantisipasi meningkatnya risiko akibat ketergantungan pada penyedia teknologi AI dan komputasi awan (cloud), serta keterkaitan risiko antarlembaga keuangan dan lintas negara.
Sejalan dengan itu, para Gubernur Bank Sentral EMEAP juga sepakat memperkuat kolaborasi regional untuk berbagi pengalaman dan praktik terbaik dalam pengembangan tata kelola AI, peningkatan ketahanan siber, serta penanganan penipuan digital (digital fraud and scams) yang semakin bersifat lintas negara.
Pertemuan EMEAP ke-31 dihadiri Gubernur Bank Sentral Australia, Hong Kong SAR, Indonesia, Jepang, Korea, Malaysia, Selandia Baru, Filipina, Singapura, dan Thailand, serta Deputi Gubernur Bank Sentral Tiongkok dan Hong Kong SAR. Selanjutnya, pertemuan EMEAP ke-32 tahun 2027 akan dipimpin oleh Bank Indonesia.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!