Punya Blueprint F-22, Mengapa Tiongkok Tidak Bisa Meniru Jet Paling Siluman di Dunia?
📅 Senin, 20 Jul 2026, 00:08 WIB | Oleh: Selocahyo Basoeki Utomo SStudi MIT Press juga menyoroti bahwa setelah lebih dari dua dekade pengembangan, J-20 memang menjadi pencapaian besar industri dirgantara Tiongkok. Namun, pesawat tersebut dinilai masih belum mampu menutup kesenjangan teknologi dengan F-22, terutama dalam aspek siluman, integrasi sensor, dan performa keseluruhan.
Fakta menarik lainnya justru datang dari Amerika Serikat sendiri.
Saat produksi F-22 dihentikan pada 2011, Angkatan Udara AS sempat melakukan studi pada 2017 untuk mengetahui biaya membuka kembali lini produksinya.
Hasilnya mengejutkan. Amerika Serikat diperkirakan harus mengeluarkan sekitar USD 10 miliar hanya untuk menghidupkan kembali produksi pesawat yang mereka ciptakan sendiri enam tahun sebelumnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Temuan tersebut menunjukkan bahwa membangun pesawat tempur generasi kelima bukan sekadar persoalan memiliki gambar rancangan, melainkan mempertahankan seluruh ekosistem industri, rantai pasok, tenaga ahli, teknologi manufaktur, serta kemampuan rekayasa yang sangat kompleks.
Dengan kata lain, memiliki blueprint F-22 bukan berarti mampu menciptakan "F-22 versi sendiri". Di dunia teknologi militer modern, nilai terbesar sebuah pesawat tempur justru terletak pada pengetahuan manufaktur dan pengalaman industri yang tidak tercantum di dalam gambar desain.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!