Ini Lima Pilar Transformasi PTPN I Menuju Korporasi Agribisnis Berkelas Dunia
📅 Jumat, 10 Jul 2026, 21:30 WIB | Oleh: Haryo BronoJAKARTA – Direktur Utama PT Perkebunan Nusantara I (Persero) atau PTPN I, Abdul Rivai Ras, menegaskan transformasi yang telah dijalankan perusahaan dalam beberapa tahun terakhir. Namun demikian katanya hal ini perlu dipercepat agar mampu menjawab tantangan industri perkebunan yang semakin kompleks.
Dalam pernyataan tersebut disampaikan Abdul Rivai Ras di Jakarta, Jumat (10/7), sepekan setelah resmi menjabat sebagai Direktur Utama PTPN I, perubahan harus dilakukan secara lebih progresif dengan mengedepankan tata kelola modern, profesional, dan berbasis digital.
Doktor Ilmu Politik bidang Kebijakan Pertanahan itu mengatakan transformasi perusahaan memerlukan komitmen bersama agar mampu mengakselerasi kinerja korporasi secara menyeluruh dan dibutuhkan prasyarat berupa manajemen yang modern.
"Transformasi yang progresif di era digital membutuhkan prasyarat berupa manajemen yang modern, profesional, tangguh, dan memiliki daya saing global," ujarnya melalui siaran pers pada hari Jumat (10/7).
Ia menilai industri perkebunan masih memiliki peran strategis sebagai penyedia bahan baku bagi industri manufaktur sekaligus menjadi sektor yang menopang kehidupan masyarakat. Pasalnya sektor ini merupakan penyedia bahan baku bagi industri manufaktur.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Industri perkebunan atau farming adalah main course sebagai penyedia bahan baku industri manufaktur. Industri ini tidak akan mati selama kehidupan masih berlangsung. Karena itu, seluruh lini perusahaan harus diperkuat melalui modernisasi dan profesionalisme agar mampu berkembang lebih progresif," katanya.
Industri Perkebunan Miliki Dampak Ekonomi dan Sosial
Menurut Rivai, sektor perkebunan tidak hanya berperan menghasilkan komoditas pangan dan bahan baku industri, tetapi juga menjadi sektor padat karya yang mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar di berbagai daerah.
Sebaiknya Anda baca juga:
Karena itu, transformasi perusahaan tidak semata-mata ditujukan untuk meningkatkan keuntungan, tetapi juga memberikan dampak sosial yang lebih luas melalui penciptaan lapangan kerja dan penguatan ekonomi masyarakat.
"Kita harus bertransformasi secara cepat dan masif bukan hanya mengejar profit, tetapi juga menciptakan efek sosial yang lebih besar. Perkebunan merupakan sektor yang menyerap tenaga kerja paling besar dalam rantai ekonomi dengan sebaran yang luas," ungkapnya.
Hadapi Tantangan Global
Rivai menilai dinamika industri perkebunan telah berubah secara signifikan. Persaingan global, fluktuasi harga komoditas, perubahan iklim, tuntutan penerapan prinsip keberlanjutan atau Environmental, Social, and Governance (ESG), hingga percepatan digitalisasi menuntut perusahaan melakukan perubahan mendasar.
Menurutnya, pengelolaan perusahaan perkebunan saat ini tidak lagi hanya berorientasi pada peningkatan produksi.
"Mengelola PTPN I hari ini bukan lagi sekadar mengelola kebun atau mengejar target produksi. Amanah ini adalah tanggung jawab membangun korporasi negara yang mampu bersaing di tingkat global, adaptif terhadap perubahan, serta menciptakan nilai tambah yang lebih besar bagi negara dan masyarakat," katanya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!