IHSG Tersandung Aksi Risk-Off, Investor Kurangi Eksposur di Pasar Saham
📅 Rabu, 24 Jun 2026, 17:55 WIB | Oleh: Tim PenulisJAKARTA – Pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencerminkan meningkatnya sikap kehati-hatian investor di tengah ketidakpastian ekonomi dan keuangan global.
Ketika sentimen risiko meningkat, pelaku pasar cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko seperti saham dan mengalihkan dana ke instrumen yang dianggap lebih aman, seperti obligasi pemerintah atau dolar AS. Fenomena risk-off ini dapat memicu tekanan jual di pasar saham dan menekan pergerakan IHSG.
Meski demikian, arah indeks ke depan tetap akan dipengaruhi oleh kondisi fundamental domestik, kinerja emiten, serta respons kebijakan ekonomi dalam menjaga stabilitas dan kepercayaan pasar.
IHSG Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu (24/6) sore, ditutup melemah 217,45 poin atau 3,56 persen ke posisi 5.883,88 seiring investor global bersikap risk off (menghindari aset berisiko), termasuk di emerging market seperti Indonesia.
Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 20,26 poin atau 3,39 persen ke posisi 578,17.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Dari eksternal, pasar masih mencermati arah suku bunga global, pergerakan yield US Treasury, serta penguatan dolar AS yang mendorong investor lebih berhati-hati terhadap aset berisiko di emerging markets. Dari domestik, pelemahan rupiah yang sempat menyentuh level Rp18.000 per dolar AS turut menekan market sentiment dan memicu aksi profit taking," ujar Pengamat Pasar Modal Elandry Pratama saat dihubungi di Jakarta.
Selain itu, Elandry menyebut investor masih menunggu kejelasan implementasi sejumlah kebijakan fiskal dan program prioritas pemerintah, agar dapat mengukur dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi, defisit anggaran, serta keberlanjutan fiskal ke depan.
"Hasil review MSCI yang belum membawa perubahan status Indonesia juga membuat pasar belum memperoleh katalis positif baru dalam jangka pendek," ujar Elandry.
Sebaiknya Anda baca juga:
Elandry menjelaskan, saat ini investor asing cenderung bersikap wait and see. Di satu sisi, fundamental ekonomi Indonesia dan valuasi pasar saham masih relatif menarik dibandingkan beberapa negara regional.
Di sisi lain, investor global masih menunggu kepastian terkait stabilitas nilai tukar, arah kebijakan moneter global, efektivitas kebijakan fiskal pemerintah, serta konsistensi pelaksanaan program-program ekonomi yang telah dicanangkan.
"Kondisi tersebut membuat aliran dana asing belum masuk secara agresif dan cenderung selektif pada saham-saham berfundamental kuat dan likuiditas tinggi," ujar Elandry.
Dalam jangka pendek, Elandry memproyeksikan IHSG berpotensi bergerak konsolidatif dengan volatilitas yang masih cukup tinggi.
Selama belum terdapat katalis positif yang kuat baik dari sisi global maupun domestik, menurutnya, pergerakan pasar kemungkinan masih akan cenderung sideways dengan bias hati-hati.
Selain itu, pelaku pasar juga akan mencermati realisasi kebijakan fiskal pemerintah dan dampaknya terhadap aktivitas ekonomi pada semester II-2026.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!