Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Memetri Kekayaan Khas Budaya agar Tak Diklaim Negara Tetangga Sangat Perlu

📅 Minggu, 14 Jun 2026, 07:52 WIB | Oleh: Tim Penulis
Memetri Kekayaan Khas Budaya agar Tak Diklaim Negara Tetangga Sangat Perlu Doc: ist
Ket. harus dirawat

JAKARTA – Karena negara tetangga gemar mengeklaim budaya kita, maka melestarikan, merawat dan memetri segala kekayaan budaya seperti Reog sangat perlu. Di bawah bayang-bayang dadak merak yang menjulang, Reog Ponorogo selalu menghadirkan lebih dari sekadar tontonan. Ia adalah kisah tentang identitas, ingatan kolektif, dan daya tahan budaya yang terus bergerak mengikuti zaman.

Ketika puluhan kelompok Reog berkumpul di Alun-Alun Ponorogo dalam Festival Nasional Reog Ponorogo (FNRP) XXXI Tahun 2026 pada 11–14 Juni 2026, yang dipertaruhkan bukan hanya gelar penyaji terbaik atau Piala Presiden. Hal yang sedang diuji adalah kemampuan sebuah warisan budaya untuk tetap hidup di tengah perubahan sosial yang begitu cepat.

FNRP tahun ini menjadi momentum penting. Sebanyak 32 kontingen dari berbagai daerah tampil dalam ajang yang telah memasuki penyelenggaraan ke-31. Kehadiran peserta dari Surabaya, Nganjuk, Wonogiri, Surakarta, hingga Palembang menunjukkan bahwa Reog tidak lagi sekadar milik Ponorogo. Ia telah menjelma menjadi simpul budaya yang menghubungkan berbagai daerah melalui satu kesenian yang sama.

Momentum tersebut semakin bermakna setelah Reog Ponorogo memperoleh pengakuan dunia sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO. Pengakuan internasional itu membawa kebanggaan, sekaligus tanggung jawab besar. Sebab, pengakuan bukanlah garis akhir, melainkan titik awal dari pekerjaan panjang menjaga keberlanjutan tradisi.

Dalam konteks itulah FNRP menjadi lebih relevan. Festival bukan sekadar panggung kompetisi tahunan, melainkan instrumen pelestarian yang konkret. Ia mempertemukan para pelaku budaya, membuka ruang regenerasi, sekaligus memperkuat ekosistem seni yang menopang keberlangsungan Reog.

Regenerasi budaya

Menariknya, peta kekuatan peserta beberapa tahun terakhir memperlihatkan fenomena yang patut dicermati. Banyak kelompok terbaik justru berasal dari lingkungan sekolah dan perguruan tinggi. Nama-nama kontingan, seperti SMA Muhammadiyah Ponorogo, SMAN 1 Ponorogo, Universitas Brawijaya, hingga UIN Kiai Ageng Muhammad Besari menunjukkan bahwa generasi muda mulai mengambil alih tongkat estafet pelestarian.

Fenomena ini memberikan harapan. Banyak warisan budaya di berbagai negara menghadapi persoalan serius berupa menurunnya minat generasi muda. Tradisi menjadi semakin tua karena pelakunya tidak bertambah. Namun, yang terjadi pada Reog menunjukkan gejala berbeda.

Keterlibatan pelajar dan mahasiswa menandakan bahwa Reog berhasil menyeberangi batas generasi. Seni yang lahir ratusan tahun lalu mampu diterjemahkan ulang oleh anak-anak muda yang hidup di era media sosial dan kecerdasan buatan.

Namun, regenerasi tidak boleh dimaknai sekadar penambahan jumlah pemain. Tantangan sebenarnya adalah memastikan para generasi muda memahami makna yang terkandung di balik setiap gerak tari, iringan gamelan, kostum, hingga filosofi tokoh-tokoh dalam Reog.

Di sinilah pentingnya festival yang tidak hanya menilai aspek teknis pertunjukan, tetapi juga menjadi ruang pendidikan budaya. Ketika seorang pelajar mempelajari karakter Warok atau memahami simbolisme Singobarong, sesungguhnya ia sedang belajar tentang sejarah, nilai kepemimpinan, keberanian, dan identitas daerahnya.

Pengalaman berbagai negara menunjukkan bahwa keberhasilan pelestarian budaya bergantung pada kemampuan menjadikan tradisi relevan bagi generasi baru. Jepang berhasil mempertahankan teater Kabuki karena terus membuka ruang bagi generasi muda. Korea Selatan mengembangkan budaya tradisional menjadi bagian dari diplomasi budaya global. Indonesia pun memiliki peluang serupa melalui Reog.

Karena itu, langkah Ponorogo yang menggelar Festival Reog Remaja berdampingan dengan FNRP merupakan strategi yang tepat. Regenerasi tidak boleh menunggu. Ia harus disiapkan sejak dini melalui ruang apresiasi dan kompetisi yang sehat.


Ekonomi kebudayaan

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Nasional
Wisata Gastronomi Ajak Wisa...
Megapolitan
Pemerintah Kota Bogor: Perl...
Daerah
Jaringan Sabu Karawang-Beka...
Ekonomi
Harga Telur Ayam Rp30.100/K...
Olahraga
Puluhan Ribu Orang Ikuti Lo...
Olahraga
Piala Dunia: Brasil Ditahan...
Olahraga
Turnamen Bulu Tangkis Khusu...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Puluhan Ribu Orang Ikuti Lomba Lari Jakarta Internasional Maraton

Puluhan Ribu Orang Ikuti Lomba Lari Jakarta Internasional Maraton

14 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.