Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Tiongkok Gunakan AI Demi Amankan Masa Depan Panda

📅 Kamis, 11 Jun 2026, 16:08 WIB | Oleh:
Tiongkok Gunakan AI Demi Amankan Masa Depan Panda Doc: Getty Images

CHENGDU - Di pusat penyelamatan dan pengembangbiakan satwa liar di wilayah Wenxian, Provinsi Gansu, Tiongkok barat laut, sebuah layar menampilkan pergerakan panda raksasa liar secara waktu nyata. Dalam beberapa klik saja, direktur pusat tersebut, Liu Zhi, dapat merencanakan rute patroli berikutnya. Situasi ini sangat berbeda dibandingkan lebih dari dua dekade lalu, ketika para jagawana harus menyusuri pegunungan hanya berbekal keberuntungan dan pengalaman.

Liu telah bekerja di kawasan pegunungan tersebut sejak tahun 2000. Menurutnya, kawasan yang dikelola pusat itu merupakan salah satu kawasan dengan kepadatan populasi panda raksasa liar tertinggi di Taman Nasional Panda Raksasa. Taman nasional ini resmi dibentuk pada 2021 untuk memperkuat perlindungan panda raksasa dan habitatnya di provinsi Sichuan, Shaanxi, dan Gansu.

"Banyak satwa liar, termasuk panda raksasa, sebenarnya agak pemalu. Salah satu tugas kami adalah melindungi satwa liar dan habitatnya sembari meminimalkan dampak aktivitas manusia terhadap alam," kata Liu.

Saat ini, kawasan tersebut telah dilengkapi sistem pemantauan cerdas "antariksa-udara-darat" yang mengintegrasikan penginderaan jauh satelit, fotografi udara, dan jaringan sensor darat. Dengan lebih dari 1.500 kamera inframerah dan lebih dari 20 drone yang telah dikerahkan, serta terhubung ke platform mahadata (big data) kehutanan dan padang rumput yang berbasis kecerdasan, sistem ini memungkinkan pemantauan multidimensi secara terus-menerus terhadap kondisi hidrologi, meteorologi, satwa liar, dan vegetasi.

"Teknologi baru memberi kami pemahaman yang lebih akurat mengenai perubahan populasi," ujar Liu.

Upaya serupa yang didukung teknologi kini perlahan-lahan berlangsung di dalam hutan-hutan di kawasan lain di Taman Nasional Panda Raksasa. Di wilayah Chengdu, ibu kota Provinsi Sichuan, lebih dari 600 kamera inframerah telah dipasang dan rata-rata berhasil merekam lebih dari 300 citra panda raksasa liar setiap tahun.

Dengan 178 grid pemantauan yang juga telah disiapkan, sistem pemantauan ekologi cerdas awal pun telah terbentuk, yang menggabungkan pemantauan keanekaragaman hayati, pagar elektronik, dan patroli cerdas.

Berkat rekaman hutan secara waktu nyata yang ditransmisikan melalui platform manajemen cerdas, area di wilayah Tianquan, Sichuan, telah meluncurkan layanan siaran langsung daring pengamatan satwa liar. Layanan ini pernah menarik lebih dari 500.000 penonton dalam satu jam, sebuah rekor yang tidak hanya meningkatkan kesadaran masyarakat akan konservasi, tetapi juga mendorong pariwisata ekologi lokal, serta kegiatan pendidikan dan penelitian.

Selain untuk mengetahui di mana panda raksasa liar berada, kini teknologi juga digunakan untuk mengidentifikasi hewan-hewan tersebut secara lebih akurat.

Metode pemantauan lapangan konvensional terutama mengandalkan analisis terhadap panjang dan karakteristik serpihan batang bambu yang ditemukan dalam feses panda raksasa untuk melakukan identifikasi kasar.

Di kawasan Tangjiahe di Taman Nasional Panda Raksasa di Sichuan, peningkatan teknologi kini memungkinkan para staf mengumpulkan feses panda liar yang masih segar dan melakukan pengujian DNA untuk mengidentifikasi masing-masing individu panda. Hal ini memungkinkan mereka memperoleh data inti secara akurat, termasuk jenis kelamin, usia, kondisi kesehatan, dan pola aktivitas panda.

Berdasarkan fondasi ini, kawasan tersebut mencatatkan terobosan teknologi lainnya dalam konservasi panda tahun lalu. "Kami telah sepenuhnya meluncurkan teknologi 'pengenalan wajah panda' berbasis kecerdasan buatan (AI)," ujar Xiao Mei, seorang pejabat di kantor administrasi Cagar Alam Nasional Tangjiahe.

Para peneliti melatih model AI tersebut menggunakan data set besar gambar-gambar di lapangan, mengembangkan sebuah sistem pengenalan cerdas yang disesuaikan untuk panda raksasa. Setelah sistem tersebut diisi dengan data pemantauan dari semua kamera inframerah yang terpasang di kawasan itu, sistem dapat secara otomatis membedakan masing-masing panda dalam rekaman tersebut.

Kawasan Tangjiahe kini mengoperasikan sistem pemantauan ganda yang menggabungkan analisis DNA feses dengan teknologi pengenalan wajah panda berbasis AI.

Pada 2025, sistem ini mendeteksi total 44 ekor panda raksasa. Sistem ini telah memperjelas besarnya populasi panda liar, karakteristik masing-masing panda, dan rentang aktivitas di kawasan tersebut, sehingga menyediakan data ilmiah untuk mendukung konservasi satwa liar dan pemulihan ekosistem regional.

Para pakar penelitian ekologis dan lingkungan dari Akademi Ilmu Pengetahuan Tiongkok (Chinese Academy of Sciences/CAS) menyebutkan bahwa alat-alat digital sedang mengubah konservasi panda raksasa dari pendekatan yang "berbasis pengalaman" menjadi pendekatan yang "berbasis data". Dengan teknologi pengenalan gambar berbasis AI, efisiensi pemantauan populasi panda liar dapat ditingkatkan lebih dari 40 persen.

Selain pengenalan wajah untuk panda liar, AI juga siap untuk diterapkan lebih lanjut dalam pemantauan perilaku panda raksasa yang dipelihara di penangkaran. Menurut sebuah makalah yang dipublikasikan pada Februari dalam jurnal internasional Applied Sciences, model DeepPanda yang dikembangkan oleh tim peneliti Tiongkok dapat secara otomatis mengidentifikasi empat perilaku dasar panda, yakni makan, berjalan, beristirahat, dan minum. Dalam kondisi eksperimental, model tersebut mencapai tingkat akurasi identifikasi sebesar 98,8 persen.

Tiongkok tidak hanya memanfaatkan teknologi untuk mendukung konservasi panda raksasa, tetapi juga bersedia berbagi pencapaiannya dengan dunia serta memimpin kerja sama internasional (di bidang tersebut)China tidak hanya memanfaatkan teknologi untuk mendukung konservasi panda raksasa, tetapi juga bersedia berbagi pencapaiannya dengan dunia serta memimpin kerja sama internasional (di bidang tersebut).

Pada November lalu, sebuah platform bersama untuk mahadata ekologis panda raksasa diluncurkan dalam Konferensi Mitra Panda Global (Global Panda Partners Conference) 2025 di Chengdu.

Platform ini mengumpulkan data pemantauan waktu nyata dari zona inti seluas 4.194,26 kilometer persegi di dalam Taman Nasional Panda Raksasa dan menyediakan 12 tipe antarmuka data, termasuk tutupan vegetasi dan aktivitas populasi, kepada institusi-institusi penelitian di seluruh dunia. Ant

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Luar Negeri
Inggris Gaet Jepang Kembang...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Sell Indonesia Jadi Trending di Pasar Keuangan, Apa Dampaknya bagi Ekonomi RI?

Sell Indonesia Jadi Trending di Pasar Keuangan, Apa Dampaknya bagi Ekonomi RI?

11 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.