Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Harga Cabai Sulit Jinak, CORE Soroti Masalah Cuaca dan Distribusi

📅 Jumat, 05 Jun 2026, 20:00 WIB | Oleh: Tim Penulis

Menurut dia, kenaikan biaya distribusi akhirnya ditransmisikan ke harga jual cabai di tingkat konsumen.

Eliza menyebutkan bahwa data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menunjukkan kelompok transportasi menyumbang andil inflasi sebesar 0,07 persen pada Mei 2026 mencerminkan adanya indikasi pembengkakan biaya logistik di lapangan, terutama pada komoditas pangan yang cepat rusak seperti cabai.

Selain cabai, ia menilai pemerintah juga perlu mewaspadai pergerakan harga bawang merah dan tomat karena memiliki karakteristik perishable atau cepat busuk yang serupa.

Menurut dia, komoditas hortikultura memiliki tingkat sensitivitas tinggi terhadap cuaca dan gangguan distribusi sehingga fluktuasi harga dapat terjadi dalam waktu singkat.

“Komoditas hortikultura sangat sensitif terhadap cuaca dan gangguan distribusi,” tuturnya.

Data BPS juga menunjukkan cabai merah menjadi salah satu komoditas penyumbang inflasi pada Mei 2026 dengan andil inflasi sebesar 0,08 persen seiring kenaikan harga di berbagai daerah.

Karena itu, Eliza mendorong penguatan dan pemantauan distribusi pangan dan sistem logistik hortikultura guna menjaga stabilitas harga pangan, terutama pada periode cuaca ekstrem.

Sementara itu, pemerintah melalui Badan Pangan Nasional (Bapanas) pada 2 Juni 2026 menyatakan terus memperkuat distribusi antardaerah dan pelaksanaan Gerakan Pangan Murah (GPM) untuk menjaga stabilitas harga cabai dan komoditas hortikultura lain.

Pelaksanaan GPM pada 2025 tercatat mencapai 13.321 kali dan kembali diadakan di seluruh provinsi serta kabupaten/kota pada tahun ini guna menjaga stabilitas harga dan pasokan pangan di tingkat konsumen.

Bapanas juga mendorong kelancaran pasokan dari sentra produksi ke pasar konsumsi guna menekan gejolak harga pangan di tingkat konsumen.

Selain itu, Kementerian Pertanian sebelumnya juga menyatakan terus memperkuat pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT), pengawasan sentra produksi hortikultura, serta percepatan distribusi pangan guna menjaga stabilitas pasokan cabai dan bawang merah selama periode cuaca ekstrem.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
  • Mohon Dukungan Doa! Paus Leo XIV Akan Jalani Operasi Paru-paru di Roma
    Turut mendoakan, semoga operasinya berjalan baik dan lancar ...
  • Peringkat FIFA Melesat, Timnas Indonesia Dipastikan Lolos Langsung ke Putaran Kedua Kualifikasi Piala Dunia 2030
    Masa depan timnas kita sepertinya makin cerah, sangat ...
  • Kolaborasi Industri dan Akademisi Diperkuat, Seequent Dorong Kapasitas Geosains Indonesia
    How can collaboration between industry and academic institutions ...
  • Mengapa Tak Banyak Mahasiswa Asing yang Mau Kuliah di Indonesia?
    What factors might discourage international students from pursuing ...
Advertisement
jjroyal-luwak
Daerah
Pemprov Jawa Timur Akan Sia...
Advertisement
Klasemen Liga Champions: PSG Naik ke Puncak, Tiga Wakil Italia Terpuruk di Luar Zona Playoff

Klasemen Liga Champions: PSG Naik ke Puncak, Tiga Wakil Italia Terpuruk di Luar Zona Playoff

15 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.