Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Aktivitas Pasar Induk Kramat Jati Makin Padat

📅 Kamis, 19 Feb 2026, 04:05 WIB | Oleh:
Aktivitas Pasar Induk Kramat Jati Makin Padat Doc: ANTARA/Siti Nurhaliza
Ket. Suasana di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, menjelang hari pertama Ramadhan (H-1) 2026, Rabu (18/2).

JAKARTA – Kegiatan jual beli di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, semakin padat sehari menjelang puasa, Rabu (18/2). Keramaian pasar terjadi sejak Rabu dini hari hingga sore menjelang petang. “Padat sekali aktivitas pasar,” tandas Manajer Pasar Induk Kramat Jati, Agus Lamun, Rabu (18/2). Menurutnya, Pasar Induk Kramat Jati beroperasi selama 24 jam. Sehari menjelang puasa kemarin, pasar memang ramai sekali.

Arus kendaraan pengangkut bahan pangan serta pembeli dari berbagai daerah terus memadati pasar. Pasar Induk Kramat Jati menjadi pusat distribusi sayur dan buah terbesar di Jakarta dan sekitarnya. Agus menyebutkan, peningkatan aktivitas menjelang puasa merupakan kejadian rutin setiap tahun.

Menurutnya, pasar yang berada di bawah pengelolaan Pemerintah Provinsi Jakarta itu memang beroperasi selama 24 jam untuk menjamin kelancaran distribusi bahan pangan. Peningkatan jumlah pengunjung pun dinilai tidak terlepas dari kebutuhan masyarakat untuk mempersiapkan stok bahan makanan selama bulan puasa.

Hal ini terlebih karena sebagian masyarakat sudah mulai menjalani puasa, sehingga permintaan terhadap kebutuhan pokok semakin tinggi. “Banyak masyarakat yang ingin memastikan stok pangan tetap tersedia, terutama untuk kebutuhan sahur dan berbuka puasa. Karena itu, aktivitas pasar meningkat pesat,” ujar Agus.

Sebagai pusat distribusi utama, Pasar Induk Kramat Jati berperan penting dalam memasok kebutuhan pangan bagi pasar-pasar lain di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Agus menuturkan, sebagian besar pasar turunan memperoleh suplai sayur dan buah dari Pasar Induk Kramat Jati.

“Sebagian besar pasar mendapat pasokan dari sini. Jadi, menjelang hari pertama puasa, tingkat keramaian sudah pasti lebih tinggi dibanding hari biasa,” jelas Agus. Sejumlah komoditas yang menjadi incaran utama para pedagang maupun masyarakat, antara lain sayur-mayur, cabai, dan bawang. Selain itu, buah-buahan juga menjadi salah satu produk yang paling diminati.

Dia menjelaskan, selain kebutuhan pokok seperti sayur, cabai, dan bawang, buah-buahan juga cukup ramai. Biasanya saat buka puasa, masyarakat ingin yang segar-segar. “Jadi, permintaan buah meningkat,” tutur Agus. Buah-buahan seperti semangka, melon, jeruk, dan kurma, banyak diminati. Peminatnya baik pedagang eceran maupun konsumen langsung. Permintaan yang tinggi itu tentu mendorong aktivitas bongkar muat pasar semakin padat.

Meskipun beroperasi selama 24 jam, dia mengungkapkan ada waktu-waktu tertentu yang menjadi puncak keramaian Pasar Induk Kramat Jati. Salah satunya kemarin, saat pasokan dari daerah mulai berdatangan. “Biasanya, pengiriman dari daerah masuk ke pasar mulai sekitar pukul 02:00 atau pagi-pagi. Saat itu pasar sudah ramai,” ucap Agus.

Selain dini hari, aktivitas juga kembali meningkat pada pagi hingga sore hari. Pada rentang waktu tersebut, sebagian besar pasokan sayur-mayur berdatangan dan langsung didistribusikan kepada pedagang. “Dari jam 9 pagi sampai sore, sayur-sayuran banyak datang. Pada jam-jam tersebut aktivitas pasar juga cukup padat,” ungkap Agus.

Dengan adanya peningkatan aktivitas menjelang puasa, pengelola pasar terus berupaya menjaga kelancaran distribusi dan stabilitas pasokan. Agus memastikan sampai kini, ketersediaan bahan pangan di Pasar Induk Kramat Jati dalam kondisi aman.

“Kami terus memantau suplai dari daerah agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi selama puasa,” tegas Agus. Dia pun berharap dengan distribusi yang lancar, harga bahan pokok tetap stabil sehingga masyarakat tidak terbebani selama menjalani puasa.

Harga Cabai

Sementara itu, harga cabai rawit merah di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, sempat melonjak jelang puasa. “Beberapa pekan terakhir, cabai rawit merah memang sempat naik tinggi karena suplai dari daerah belum lancar. Tapi sekarang sudah mulai turun,” ujar Agus Lamun. Kenaikan harga tersebut terjadi dalam beberapa pekan terakhir akibat terbatasnya pasokan dari daerah sentra produksi akibat cuaca ekstrem.

Kondisi ini sempat membebani pedagang dan konsumen, terutama saat permintaan mulai meningkat. Maklum, cabai merupakan komoditas paling cepat bereaksi terhadap perubahan pasokan. Pada masa puncak kenaikan, harga cabai rawit merah sempat menembus kisaran 70.000 perkilogram. Angka tersebut jauh lebih tinggi dari kondisi normal 30.000-40.000 perkilogram.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Megapolitan
Posko Siaga PLN Istana Waki...
Piala Dunia, Tim-tim Favorit Lolos ke Fase Gugur   

Piala Dunia, Tim-tim Favorit Lolos ke Fase Gugur  

23 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.