Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Pentagon Desak Perusahaan Pertahanan Genjot Produksi Senjata

📅 Senin, 10 Agu 2026, 03:00 WIB | Oleh: Tim Penulis
Pentagon Desak Perusahaan Pertahanan Genjot Produksi Senjata Doc: AFP/ Win McNamee/Getty Imagess
Ket. Wakil Menteri Pertahanan Steve Feinberg

WASHINGTON - Departemen Pertahanan Amerika Serikat (AS) di Pentagon mendesak perusahaan pertahanan untuk menggenjot produksi dan pengiriman senjata mengingat semakin menipisnya cadangan persenjataan akibat perang dengan Iran.

Menurut laporan The Washington Post, Sabtu, desakan tersebut disampaikan Wakil Menteri Pertahanan Steve Feinberg melalui sebuah memo kepada petinggi industri pertahanan pada Rabu.

Dalam pesannya, Feinberg memberi waktu 21 hari kepada para pemimpin industri menyusun rencana untuk mendorong pengiriman yang lebih cepat dan agresif dan/atau meningkatkan produksi untuk kapabilitas kritis.

“Siklus pengembangan yang memakan waktu bertahun-tahun tak dapat diterima," kata Feinberg.

"Kita harus mengakselerasi rencana produksi kita secara penuh dan memperluas kapasitas produksi sekarang,” tambahnya.

Instruksi tersebut disampaikan di tengah upaya Pentagon mengisi kembali cadangan persenjataan, termasuk sistem rudal pencegat Patriot dan Terminal High Altitude Area Defense (THAAD).

Adapun lembaga wadah pemikir AS Pusat Studi Strategis dan Internasional (CSIS) menyebut cadangan global sistem rudal Patriot merosot dari 2.200 unit sebelum perang menjadi hanya 827, dengan cadangan sistem THAAD bernasib sama dari 452 menjadi hanya 278.

Pentagon juga berupaya mendorong kesepakatan kerangka kerja dengan kontraktor pertahanan dan firma teknologi besar untuk meningkatkan produksi. Namun, kesepakatan tersebut tidak mengikat dan bergantung pada pendanaan yang disetujui Kongres AS.

“Hampir tidak ada yang dikontrak, dan inilah masalahnya,” kata Tom Karako, direktur Proyek Pertahanan Rudal di CSIS.

Sementara itu, Juru Bicara Pentagon Sean Parnell mengkonfirmasi memo yang disampaikan Feinberg.

Menurut dia, hal tersebut akan menjadi acuan bagi anggaran tahun fiskal 2028 yang diserahkan kepada Kongres AS untuk pendanaan serta konsisten dengan upaya membangun kembali basis industri pertahanan nasional.

Upaya Pentagon tersebut berlangsung meski RUU belanja pertahanan senilai 1,15 triliun dollar AS masih mandek di Kongres AS, sehingga berpotensi menahan upaya mempercepat peningkatan produksi senjata.

Sebelumnya Departemen Pertahanan AS, di Pentagon menggelar rapat darurat pada Jumat malam pekan lalu waktu setempat untuk membahas kekurangan persenjataan menyusul percakapan telepon bernada marah dari Presiden AS Donald Trump kepada Wakil Menteri Pertahanan Steve Feinberg.

NBC, Kamis, mengutip sejumlah sumber, melaporkan bahwa rapat itu dihadiri oleh pejabat tinggi militer serta pejabat yang membidangi pengadaan alutsista.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Olahraga
Asian Games: Tim Voli Putra...
Advertisement
Final Indonesia vs Thailand: Penjualan Tiket Dibuka Mulai Rp250 Ribu, Ini Cara Belinya!

Final Indonesia vs Thailand: Penjualan Tiket Dibuka Mulai Rp250 Ribu, Ini Cara Belinya!

02 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.