Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Pakar: Pangan dan Rupiah Jadi Dua Kunci Meredam Inflasi

📅 Jumat, 05 Jun 2026, 19:40 WIB | Oleh: Tim Penulis
Pakar: Pangan dan Rupiah Jadi Dua Kunci Meredam Inflasi Doc: ANTARA/ Harianto
Ket. Arsip foto - Bawang merah dan komoditas pangan lainnya yang dijual di Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

JAKARTA – Mengantisipasi pergerakan inflasi menjadi langkah penting untuk menjaga daya beli masyarakat dan stabilitas ekonomi.

Pemantauan harga pangan, energi, serta kelancaran distribusi barang menjadi faktor krusial karena sering kali menjadi sumber utama tekanan inflasi.

Selain itu, koordinasi antara pemerintah dan otoritas moneter diperlukan untuk memastikan kenaikan harga tetap terkendali tanpa menghambat aktivitas ekonomi.

Antisipasi yang tepat dapat meminimalkan risiko lonjakan inflasi sekaligus menjaga kepercayaan pelaku usaha dan investor terhadap prospek perekonomian.

Lembaga wadah pemikir (think tank) Prasasti Center for Policy Studies menilai perlu penguatan langkah-langkah dalam menjaga pasokan pangan dan stabilitas kurs rupiah guna mengantisipasi pergerakan inflasi setelah laju kenaikan harga melewati level 3 persen pada Mei 2026.

Board of Experts Prasasti yang juga mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Halim Alamsyah menilai kenaikan inflasi perlu ditangani secara cepat dan tepat mengingat terjadi di tengah pelemahan nilai tukar rupiah dan meningkatnya ketidakpastian ekonomi global.

"Kecenderungan naiknya tekanan inflasi serta menipisnya surplus dagang adalah sinyal yang perlu dicermati dan ditangani secara cepat dan tepat," kata Halim dalam keterangannya diterima di Jakarta, Jumat (5/6).

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi tahunan (year on year/yoy) pada Mei 2026 mencapai 3,08 persen, meningkat dibandingkan April yang sebesar 2,42 persen.

Menurut dia, tekanan inflasi saat ini tidak hanya dipengaruhi faktor pasokan pangan, tetapi juga terkait depresiasi rupiah yang berpotensi meningkatkan harga barang impor dan biaya produksi.

Oleh karena itu, Halim menilai pengendalian inflasi dan stabilitas nilai tukar memerlukan koordinasi yang lebih erat antara otoritas moneter, fiskal, dan sektor keuangan.

"Strategi pemerintah untuk terus mendorong kegiatan ekonomi akan diuji oleh pasar melalui kemampuan pemerintah dan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas rupiah dan inflasi," ujarnya.

Ia menambahkan langkah meningkatkan pasokan devisa dalam negeri serta menjaga kredibilitas kebijakan menjadi faktor penting untuk meredam ketidakpastian ekonomi.

Sementara itu, Policy and Program Director Prasasti, Piter Abdullah mengatakan inflasi saat ini masih didominasi komponen harga barang bergejolak (volatile food) seperti cabai merah, tomat, dan bawang merah yang sangat bergantung pada faktor cuaca dan pasokan.

"Inflasi inti kita sendiri tetap rendah. Jadi tekanan harga yang sekarang muncul sifatnya sementara, bukan struktural," kata Piter.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Mesin Produksi Kembali Panas! BI Sebut Industri Pengolahan Tumbuh di Awal 2026
    Sebagai seseorang yang rutin mengikuti perkembangan sektor pengolahan, ...
  • Badan Pusat Statistik: Harga Beras Premium dan Medium Kompak Naik pada Agustus
    Informasi yang sangat komprehensif terkait laporan BPS bulan ...
  • Warga Asing Asal Aljazair Ini Bikin Geger, Lakukan Ritual Berendam di Danau Sunter
    Dia sedang melakukan ritual/ibadah sesuai kepercayaannya, knp kalian ...
  • KADIN Sebut Industri Kendaraan Listrik Kurangi Emisi dan Buka Lapangan Kerja
    Ulasan dari Koran Jakarta ini memberikan landasan berpikir ...
  • 4,45 Juta IKM Wajib Hijau Kalau Mau Tembus Rantai Pasok Global & Akses Pembiayaan
    Langkah taktis yang sangat presisi dari Kemenperin. Mengacu ...
Advertisement
kai-expo-detail-sidebar

Dua Daerah yang Mengalami Inflasi Paling Tinggi  

43 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Daerah
Dua Daerah yang Mengalami I...
Advertisement
jjroyal-luwak
Advertisement
Stasiun Karet Tak Lagi Layani Penumpang Mulai 1 September

Stasiun Karet Tak Lagi Layani Penumpang Mulai 1 September

01 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.