Pembangunan Papua Jangan Keluar dari Semangat Keadilan dan Keberlanjutan
📅 Senin, 10 Agu 2026, 03:05 WIB | Oleh: Tim RedaksiJAKARTA - Pembangunan Papua menjadi ikhtiar nasional untuk memastikan seluruh anak bangsa memperoleh kesempatan yang sama untuk maju, berkembang dan menikmati hasil pembangunan.
Wakil Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Wakil Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Febrian Alphyanto Ruddyard dalam dialog dengan dalam Dialog Strategis bersama Gubernur dan Bupati/Wali Kota se-Tanah Papua mengatakan pembangunan Papua bukan sekadar pembangunan sebuah kawasan.
“Keberhasilan Rencana Aksi Percepatan Pembangunan Papua (RAPPP) 2025-2029 hanya dapat dicapai apabila seluruh pihak bergerak dengan arah yang sama dan semangat yang sama,” kata Ruddyard.
RAPPP 2025-2029 merupakan rencana aksi lima tahunan yang menjadi turunan dari Peraturan Presiden Nomor 24 Tahun 2023 tentang Rencana Induk Percepatan Pembangunan Papua (RIPPP) Tahun 2022–2041.
RAPPP mengusung tiga misi utama, yaitu Papua Sehat, Papua Cerdas, dan Papua Produktif, yang dijabarkan ke dalam 19 program percepatan pembangunan.
Menanggapi hal tersebut, Peneliti Mubyarto Institute, Awan Santosa mengingatkan agar arah pembangunan di Bumi Cenderawasih tidak keluar dari semangat keadilan dan keberlanjutan.
“Pemerintah harus memastikan bahwa yang dilakukan adalah pembangunan Papua, bukan sekedar pembangunan di Papua yang justru merusak lingkungan dan meminggirkan masyarakat adat Papua,” kata Awan.
Menurut Awan, kunci keberhasilan pembangunan Papua terletak pada orientasi pemanfaatan sumber daya alam. Ia menilai selama ini banyak proyek di Papua hanya berfokus pada pengambilan hasil tanpa memberi dampak langsung pada kesejahteraan warga lokal.
“Untuk itu pengelolaan kekayaan alam di Papua mesti diorientasikan untuk pembangunan manusia, ekonomi rakyat, dan kesejahteraan sosial masyarakat Papua,” tegasnya.
Awan menekankan tiga pilar utama yang harus menjadi acuan: pertama, peningkatan kualitas SDM Papua melalui pendidikan dan kesehatan. Kedua, penguatan ekonomi rakyat berbasis potensi lokal seperti pertanian, perikanan, dan ekonomi hijau. Ketiga, jaminan perlindungan sosial agar masyarakat adat tidak tergusur oleh masuknya investasi besar.
Hindari Pembangunan yang Merusak
Selama ini kata Awan, pembangunan di banyak daerah sumber daya sering jatuh pada pola ekstraktif. Hutan dibuka, tambang digali, tapi masyarakat sekitar justru tertinggal dan lingkungan rusak. Sebab itu, dia mendorong Pemerintah bersama Pemda di Tanah Papua merancang skema pembangunan yang menempatkan masyarakat adat sebagai subjek, bukan objek.
“Kalau hanya mengejar pertumbuhan ekonomi tanpa melihat siapa yang menikmati dan apa dampaknya ke lingkungan, maka kita hanya mengulang kesalahan yang sama,” katanya.
Sementara itu, pemerhati isu kemiskinan dari Sustainability Learning Center (SLC), Hafidz Arfandi mengingatkan agar makna “pembangunan” di Papua tidak bergeser menjadi kepentingan pusat.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!