Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Pengeditan Gen Dapat Hilangkan Kromoson Penyebab Sindrom Down

📅 Selasa, 06 Jan 2026, 06:23 WIB | Oleh:
Pengeditan Gen Dapat Hilangkan Kromoson Penyebab Sindrom Down Doc: JOHAN ORDONEZ/AFP
Ket. Tiga siswa penyandang Down syndrome saling menyapa saat penutupan tahun ajaran di yayasan Margarita Tejada di Kota Guatemala.

SINDROM Down (Down syndrome) adalah kondisi genetik yang terjadi ketika seseorang memiliki salinan tambahan kromosom 21 (disebut trisomi 21). Kelebihan materi genetik ini memengaruhi perkembangan fisik dan intelektual seseorang sejak lahir.

Sebuah studi terobosan dari Jepang membuka kemungkinan baru untuk mengatasi penyebab genetik sindrom Down melalui teknologi pengeditan gen mutakhir. Dengan memanfaatkan CRISPR-Cas9, para peneliti dari Universitas Mie berhasil menghilangkan salinan tambahan kromosom 21 dari sel manusia dalam kondisi laboratorium. Pencapaian ini menjadi tonggak ilmiah yang berpotensi mengubah pendekatan masa depan dalam menangani sindrom Down.

Sindrom Down, atau trisomi 21, saat ini memengaruhi sekitar 1 dari setiap 700 kelahiran di Amerika Serikat. Kondisi ini disebabkan oleh keberadaan satu salinan tambahan kromosom 21, yang menghasilkan materi genetik berlebih dan mengganggu proses seluler normal.

Akibatnya, individu dengan sindrom Down dapat mengalami berbagai tantangan perkembangan dan kesehatan, mulai dari disabilitas intelektual, cacat jantung bawaan, hingga peningkatan risiko penyakit Alzheimer pada usia lebih dini.

Tim Universitas Mie yang dipimpin oleh Ryotaro Hashizume menunjukkan bahwa CRISPR-Cas9 dapat digunakan untuk secara selektif menargetkan dan menghilangkan kromosom berlebih tersebut. Dalam makalah mereka yang dipublikasikan di PNAS Nexus, tim ini menyebut pendekatan tersebut sebagai penyelamatan trisomi melalui pemotongan kromosom ganda spesifik alel.

CRISPR-Cas9 bekerja dengan menggunakan enzim yang dipandu molekul RNA untuk mengenali dan memotong urutan DNA tertentu. Dalam penelitian ini, para ilmuwan merancang sistem CRISPR agar hanya mengenali kromosom 21 tambahan, tanpa memengaruhi dua salinan normal—sebuah teknik yang dikenal sebagai pengeditan spesifik alel.

“Kami merancang sistem CRISPR untuk menargetkan kromosom tambahan tanpa memengaruhi pasangan normalnya,” jelas Hashizume. “Tujuan kami adalah menghilangkan materi genetik berlebih dan melihat apakah ekspresi gen sel dapat kembali ke tingkat normal.”

Uji coba awal dilakukan pada sel punca yang dikultur di laboratorium. Setelah kromosom tambahan dihilangkan, para peneliti mengamati bahwa pola ekspresi gen dan produksi protein menjadi lebih seimbang. Gen-gen yang berperan dalam perkembangan sistem saraf meningkat aktivitasnya, sementara gen terkait metabolisme ditekan—hasil yang sejalan dengan temuan sebelumnya tentang gangguan perkembangan otak akibat trisomi 21.

Penelitian kemudian diperluas ke fibroblas kulit, yaitu sel dewasa yang berasal dari individu dengan sindrom Down. Hasilnya serupa: kromosom tambahan berhasil dihilangkan pada banyak sel yang diobati.

“Hasil ini sangat menjanjikan,” ujar Hashizume. “Bahkan pada sel yang telah terdiferensiasi, kami melihat koreksi kelainan kromosom, yang membuka peluang aplikasi pada berbagai jenis jaringan.”

Sel-sel yang telah dikoreksi menunjukkan fungsi biologis yang lebih baik. Mereka tumbuh lebih cepat, memiliki waktu penggandaan yang lebih singkat, dan menghasilkan lebih sedikit spesies oksigen reaktif, senyawa berbahaya yang berkaitan dengan stres sel dan penuaan. Hal ini menandakan peningkatan fungsi mitokondria dan kebugaran sel secara keseluruhan.

Meski demikian, pendekatan ini masih menghadapi tantangan. Beberapa pemotongan CRISPR juga mengenai kromosom sehat, menimbulkan kekhawatiran terkait efek di luar target. Untuk mengatasinya, tim peneliti tengah menyempurnakan molekul pemandu CRISPR agar lebih presisi.

“Ketepatan adalah kunci,” tegas Hashizume. “Kami terus mengoptimalkan strategi penargetan dan mempelajari bagaimana sel yang diedit ini berperilaku dalam jangka panjang.”

Para ahli menilai implikasi penelitian ini sangat luas. Jika terbukti aman dan andal, teknik ini berpotensi diterapkan dalam pengobatan regeneratif, misalnya dengan menggunakan sel punca yang telah dikoreksi untuk memperbaiki jaringan rusak pada individu dengan sindrom Down. Sindrom ini sendiri dinamai dari Dr. John Langdon Down, dokter Inggris yang pertama kali mendeskripsikannya secara ilmiah pada tahun 1866.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Polres Bekasi Gelar Operasi Kejahatan Jalanan

30 menit yang lalu | Ilham Sudrajat

Megapolitan
Polres Bekasi Gelar Operasi...
Olahraga
Couch Herdman Ajak Tim Teta...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Indonesia Vs Oman 3-0, Tambah Gol Keunggulan dari Kaki Ragnar Oratmangoen di Babak Kedua

Indonesia Vs Oman 3-0, Tambah Gol Keunggulan dari Kaki Ragnar Oratmangoen di Babak Kedua

05 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.